Wednesday, January 24, 2007

FIDES QUARENS INTELLECTUM

Roma 4
“Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup” (Rm. 4:19)

Fides Quarens Intellectum merupakan judul buku dari buah tangan seorang berdarah Italia yang bernama Anselmus. Arti judul tersebut adalah iman untuk memperoleh pengertian. Dalam buku tersebut, ia mengatakan beberapa patah kata yang indah, yaitu: “Aku tidak ingin menembus keagungan-Mu, ya Tuhan, karena daya tangkapku tidak mampu. Namun aku ingin sekadar mengerti kebenaran-Mu . . . karena aku tidak berusaha mengerti agar percaya, melainkan aku percaya agar aku dapat mengerti. Sebab ini, aku percaya juga bahwa kalau aku tidak percaya, aku tidak mengerti.”

Fides Quarens Intellectum telah memberikan inspirasi bagi kita bahwa Allah tidak mungkin dapat diterima oleh akal terlebih dahulu; Ia harus diimani terlebih dahulu. Setelah beriman kepada Allah, maka kita akan semakin mengerti siapa Allah yang kita imani itu. Prinsip ini pulalah yang dipegang oleh Abraham. Roma 4 dengan kental menceritakan tentang iman Abraham yang besar. Paulus mengomentari bahwa Abraham benar-benar menaruh kepercayaan kepada Allah Yahweh sebelum ia mengerti siapa Allah Yahweh itu.

Bila kita menelusuri Kejadian 12, maka kita melihat bahwa Abraham mendengarkan panggilan Allah Yahweh untuk pergi ke negeri yang tak dikenal sebelumnya. Padahal, Abraham belum mengenal identitas Allah Yahweh sama sekali. Namun, Abraham berani merespons panggilan Allah; ia benar-benar menaruh kepercayaan kepada Allah Yahweh. Dan sesudah ia mempercayakan dirinya kepada Allah Yahweh, maka ia semakin mengerti siapa Allah Yahweh tersebut. Inilah yang dinamakan dengan fides quarens intellectum, iman untuk memperoleh pengertian.

Prinsip fides quarens intellectum mestinya masih berlaku bagi kehidupan seorang anak Allah. Adakalanya kita berdoa, namun seakan-akan Allah diam seribu bahasa. Adakalanya kita sedang mengalami penyakit dan seakan-akan Allah menelantarkan kita. Kita haus akan jawaban dari Allah atas segala hal yang menimpa kepada kita. Tetapi bagaimana bila jawaban itu belum kunjung tiba? Di sinilah dibutuhkan yang namanya iman. Sebuah iman yang berkata bahwa, “Tuhan, aku tidak mengerti kenapa hal ini terjadi padaku. Tetapi saat ini, aku mau beriman agar aku memperoleh pengertian yang lebih dalam tentang-Mu.” Inilah fides quarens intellectum.

Awal pengenalan Allah bukan bertolak dari pengertian kita tentang Allah, tetapi iman kepada Allah. Dari sanalah akan terbit pengertian tentang Allah yang kita imani.

No comments: