Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

Wednesday, April 29, 2009

Keterbatasan Ekonomi Sebabkan KDRT dan Perceraian

Selasa, 28 April 2009 | 19:24 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Alb. Hendriyo Widi Ismanto

BLORA, KOMPAS.com - Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi penyebab utama kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT dan perceraian. Faktor yang mengedepankan uang di atas segala-galanya itu bahkan dapat menjadi pemicuk kekerasan seksual pada anak sendiri.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berancana (BP3AKB) Kabupaten Blora, Suryanto, Selasa (28/4) di Blora, mengatakan selama 2008 terdapat 14 kasus KDRT di Blora. Sebanyak 10 kasus KDRT, tiga kasus perkosaan dan kekerasan seksual, dan satu kasus penelantaran.

Kasus paling tragis menyangkut kekerasan seksual ayah kandung terhadap anaknya yang masih duduk di bangku kelas VI SD di Cepu. Kejadian itu akibat kesibukan ibu yang bekerja sebagai pedagang asongan di kereta api.

Menurut Suryanto, ibu itu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, karena suaminya tidak bekerja. Selama ibu itu bekerja dan pulang larut malam, suaminya menggauli anak perempuannya. "Setelah diusut ternyata sang ibu jarang memenuhi hasrat suaminya lantaran sibuk bekerja," kata dia.

Selama ini, Suryanto menambahkan, Pemerintah Kabupaten Blora kurang memerhatikan kasus-kasus itu. Paling-paling hanya Kepolisian Resor Blora yang menangani kasus itu dari sisi pelanggaran hukum.

Pada Mei 2009, Pemerintah Kabupaten Blora akan membentuk Tim Pelayanan Terpadu Korban Tindak Kekerasan Berbasis Gender dan Anak. Tim itu beranggotakan antara lain BP3AKB, Polres Blora, Dinas Kesehatan, dan Kejaksaan Negeri Blora.

"Jika ada kasus menyangkut perempuan dan anak, tim akan menanganinya secara terpadu, dari sisi hukum, psikologis, konseling, dan pendampingan intensif," kata Suryanto.

Di Rembang, keterbatasan ekonomi kerap memicu perceraian. Berdasarkan data Pengadilan Agama Rembang, kasus perceraian yang ditangani pada 2008 sebanyak 898 kasus. Angka itu lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya, 859 kasus.

Sebanyak 585 kasus merupakan gugatan dari pihak perempuan, sedangkan 313 kasus adalah talak yang dijatuhkan suami, kata Ketua Pengadilan Agama Rembang Zaenal Hakim.

Menurut Zaenal, penyebab utama perceraian itu adalah masalah ekonomi, yaitu sebanyak 65 persen. Faktor itu memicu suami menjadi pemabuk, bertindak kasar terhadap anggota keluarga, dan selingkuh.

Para perempuan yang mengajukan cerai kebanyakan berasal dari pasangan muda usia 25 tahun ke bawah. Persentasenya mencapai 78 persen, kata dia.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/04/28/19242869/keterbatasan.ekonomi.sebabkan.kdrt.dan.perceraian..

Saturday, January 10, 2009

Mengasihi di Saat Tepat

Robertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya
sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan
merawat istrinya, Muriel, yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi
otak. Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan
untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson
memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri,

karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Namun
pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bakas
ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air
seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali
emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna
menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata
dalam hatinya, “Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak
keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami
menikah, saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun
kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya
demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,” Lalu tanpa peduli apakah Muriel
mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah
dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki
hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson
melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan
Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan
Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan
menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Yesus yang baik, Engkau
mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah
kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar
nyanyian malaikatMu. Amin”.

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan
sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk
mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis
kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama
berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil
Robertson dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku….
sayangku…”, Robertson melompat dari sepedanya dan segera
memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.
“Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya Muriel.
Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel
berbisik, “Aku bahagia!” Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang
diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah
memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan
Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah
suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ ibu atau mertua adalah
tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek
yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu.
Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka
sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Peliharalah mereka dengan
kesabaran dan penuh kasih.

http://gkpbkudussading.wordpress.com/2009/01/08/ilustrasi-dan-renungan-part-5/#more-141