Showing posts with label Testimony. Show all posts
Showing posts with label Testimony. Show all posts

Thursday, March 05, 2009

Malam yang Mengharukan

Kemarin malam saya sakit pusing dan terasa mual. Badan saya pun terserang demam. Karena merasa terserang penyakit flu, maka saya meminta istri untuk mengkop punggung. Hasilnya . . . wow menakjubkan. Ada beberapa bulatan berwarna merah keungu-unguan. Dalam bahasa Jawanya disebut gosong.

Setelah istri mengkop punggung saya, ia berkata, "Galonnya abis lho". "Coba kamu angkat galon kosongnya, lalu siapkan galon baru, nanti aku yang angkat," sahut saya. Istri pun keluar dari kamar dan segera menuju ke tempat dispenser. . . . tapi tak lama kemudian istri menjerit, "Pi . . . cepetan, tolong!" Segeralah saya keluar dan melihat apa yang telah terjadi.

Ternyata, galon barunya tumpah sebagian dan air mengalir ke mana-mana. Saya bertanya, "Lho kok kamu angkat, katanya aku yang angkat?" Lalu dia berkata, "Aku sakno kamu, katanya kamu pusing." Malam itu juga terjadi kerja bakti kecil untuk mengeringkan air.

Saya terharu dengan usaha dan pengertian istri. Mungkin maksud baiknya justru menghasilkan hasil yang kurang memuaskan (yaitu air tumpah) karena tidak kuat, tapi saya tetap melihat maksud baiknya. Karena terharu dengan maksud baiknya itu, maka saya memeluk istri dan mencium pipi sambil berkata, "Terima kasih mama." Tidak bisa dipungkiri, cinta saya kepada istri makin bertambah besar. Itulah sebuah malam yang mengharukan bagi saya. Terima kasih Tuhan untuk pemberian seorang istri yang baik kepadaku.

Friday, December 12, 2008

Kenangan Natal Pribadi


"Noel, Noel, Noel . . ." demikian lantunan lagu sayup-sayup yang terdengar di sebuah depot. Saat itu, saya makan bersama dengan para hamba Tuhan sehabis rapat. Ketika mendengar lagu-lagu Natal, saya lalu bertanya kepada beberapa rekan hamba Tuhan tentang kenangan Natal. "Ketika bicara soal Natal, kira-kira kenangan apa yang terlintas dalam benakmu? tanya saya kepada mereka. Satu per satu menjawab dengan sangat unik.

Bagi saya, dari tahun ke tahun, entahlah, setiap Natal tiba saya selalu teringat kenangan-kenangan manis di masa lampau. Biasanya memasuki bulan Desember, cicik kedua saya sudah mulai sibuk menata dan menghias pohon Natal dengan aksesoris tertentu. Lampu-lampu hias dan beberapa kado buatan diaturnya sedemikian rupa. Saya kira dialah yang paling rajin untuk menghadirkan suasana Natal di rumah.

Tapi selain itu, ada satu lagi peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan. Sebuah peristiwa yang terjadi waktu kecil di mana papi masih ada dan semua saudara masih belum menikah. Saya ingat sekali kejadiannya waktu itu di ruang tamu, malam hari, dengan pohon Natal beserta lampu-lampu hias gemerlapan yang berdiri di pojok ruang tamu. Waktu itu kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu dalam keadaan lampu dimatikan agar lampu-lampu Natal bisa menerangi ruangan.

Sebuah family gathering yang sangat indah dan berkesan. Andai ada mesin waktu, saya pasti akan memindahkan diri ke waktu itu. Saat ini hidup telah berbeda. Papi telah merayakan Natal di sorga, anak-anaknya sudah memiliki keluarga dan kehidupannya sendiri. Kondisi telah berbeda. Meski merindukan kenangan masa lalu itu terjadi lagi, tapi saya bersyukur kalau Tuhan mengizinkan kesempatan seperti demikian menggores di hati saya. Lalu, saya berjanji untuk mengumpulkan keluarga saya saat ini untuk merayakan Natal bersama. Sedih, senang, dan bangga bercampur menjadi satu ketika kenangan Natal di masa lalu terlintas dalam benak saya. Thanks God!

Sunday, September 07, 2008

Satu Lagi dari Tuhan


Hari ini ada berita mengecewakan buat saya. Cukup menyakitkan. Berita tentang seorang rekan yang mengundurkan diri dari pelayanan. Selama ini saya mengira dia adalah orang yang bisa diandalkan. Orang yang mempunyai hati terhadap pelayanan itu. Dan sejujurnya, memang saya cukup banyak memercayai hatinya. Tapi apa yang saya kira selama ini ternyata tidak terjadi. Ia justru mengundurkan diri karena alasan yang rasanya masih sulit diterima nalar saya. Rasanya tidak percaya . . . dan mengecewakan!

Mendengar kabar ini, saya cuman bisa share ke istri dengan satu kalimat pendek, "I'm dissapointed!"

Tapi peristiwa ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi dalam hidup saya, berkaitan dengan pelayanan itu. Sebelumnya pun ada orang yang selama ini saya kira dapat diandalkan. Orang yang paling dianggap mampu mendukung pelayanan itu oleh karena keahlian pada dirinya. Multi talented, I guess. Dalam banyak hal ia membantu pelayanan itu. Waktu itu banyak orang menyukainya. Dan memang, secara hitungan manusia, dia adalah "selling power" yang kita miliki. Namun . . . beberapa bulan yang lalu saya mulai paham bahwa dia belum bisa menjadi andalan.

Hari ini genaplah dua orang yang saya anggap dapat diandalkan kandas. Mau tidak mau, saya kecewa.

Tapi inilah perjalanan kerohanian bagi seorang musafir Kristen seperti saya. Satu lagi dari Tuhan, jangan bersandar pada manusia! Satu lagi pengalaman pahit yang memiliki pelajaran indah. Satu lagi berkat dari Tuhan. Sakit memang rasanya, tapi itu perlu. Mungkin sudah sekian lama saya terlalu mengandalkan pelayanan pada mereka. Dan inilah waktunya untuk kembali sadar, dan kembali ke jalan yang benar. Hmmm . . . satu lagi dari Tuhan. Terima kasih ya Tuhan. Engkau baik, sangat baik.

Monday, September 01, 2008

I SURRENDER ALL

Lukas 25: 14

"Sebab hal kerajaan sorga sama seperti seorang yang mau berpergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka"

Kemarin gereja berulangtahun yang ke 51. Acara berjalan baik. Ibadah yang dipimpin oleh Jeffry S. Tjandra juga berjalan dengan baik, dalam arti ada kerjasama yang baik antara pemusik dan pemimpin ibadahnya. Hmmm . . . saya kira cara memimpin ibadah ala Jeffry S. Tjandra cukup inspiratif bagi gereja yang disebut-sebut tradisional. Ah sayangnya, lagu-lagu yang dibawakan oleh beliau tidak semuanya dimengerti jemaat, setidaknya oleh saya. Setidaknya lebih dari dua lagu saya belum pernah mendengar lagu-lagunya sehingga hal itu agak mengganjal bagi saya.

Tapi saya kembali "dihibur" oleh penyampaian firman Tuhan yang dibawakan Pdt. Rahmiati Tanudjaja (SAAT-Malang). Inilah yang hendak saya bagikan, khususnya refleksi terhadap diri saya pribadi. Dengan mengangkat Lukas 25: 14, soal perumpamaan talenta, beliau menjelaskan bagaimana kita perlu bersyukur karena anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan. Salah satu butir yang dijelaskan adalah pada kalimat "mempercayakan hartanya kepada mereka." Berulangkali ia menekankan sepotong kalimat itu. Dan itu mengena hati saya.

Dengan penekanan itu, ia menjelaskan bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Kebenaran ini sangat hitam putih. Sangat jelas, tanpa tedeng aling-aling. Harta yang diberikan kepada hamba-hambanya adalah milik sang tuan. Itu bukan diberikan dalam arti berganti hak milik. Namun harta itu dipercayakan; artinya harta itu tidak berganti hak milik. Kepemilikan tetap ada di tangan sang tuan. Dan seperti yang kita ketahui, satu ketika sang tuan berhak minta hartanya kapanpun, atau minta hartanya digunakan untuk tujuan sesuatu, dan seterusnya. Semua ada di dalam wewenang tuannya.

Firman itu sangat mengena saya. Spontan saya langsung berinteraksi dengan diri. Banyak pertanyaan reflektif muncul: apakah selama ini saya menganggap apa yang dipakai dan digunakan adalah milik saya, apakah selama ini saya telah menggunakan semuanya itu untuk Tuhan, apakah kendaraan yang saya miliki telah digunakan untuk pelayanan Tuhan, apakah uang pun telah digunakan untuk pekerjaan Tuhan. Atau apakah selama ini saya pelit bila Tuhan meminta sesuatu dari saya, yang sebenarnya adalah milik-Nya? O God, help me to pray and do like this song:
I surrender all
I surrender all
All to Jesus, I surrender
I surrender all

Thursday, July 10, 2008

KERJASAMA YANG MEMBUAHKAN HASIL

Baru-baru ini saya sedang mengonseling sepasang suami-istri. Dalam konseling itu, saya menemukan, sekali lagi, tentang pentingnya kerjasama kedua pihak untuk memperbaiki relasi pernikahan. Bila salah satu pihak pasangan yang mengerjakan tugas perbaikan, maka ia akan merasa tidak adil; pihak lawan pasangan pun dapat merasa superior atau lebih baik dari pasangannya. Ini jelas satu hal yang tidak baik. Namun lebih dari itu, saya meyakini bahwa masalah pernikahan hampir selalu terjadi karena keterlibatan kedua belah pihak. Kedua pasangan pasti sama-sama andil dalam menciptakan dan melestarikan masalah.

Contohnya kasus perselingkuhan. Kerapkali orang melihat bahwa pasangan yang selingkuh adalah pasangan yang paling bertanggungjawab atas kesalahan itu. Pandangan sepihak ini jelas tidak memadai. Dalam kenyataannya, pasangan yang selingkuh bisa jadi disebabkan karena lawan pasangan yang tidak lagi memerhatikan pasangan yang selingkuh ini. Akibat kurangnya dan keringnya perhatian pada pasangan, maka lawan pasangan tentunya lebih rawan terhadap perselingkuhan. Di sini kita melihat keterlibatan kedua belah pihak terhadap munculnya suatu masalah pernikahan. Itulah sebabnya, dalam konseling pernikahan kedua belah pihak pasangan perlu melakukan tugas perbaikan secara bersama-sama. Kerjasama seperti demikian niscaya akan membuahkan hasil yang baik dalam pernikahan.

Kemarin siang saya dan istri sempat bertengkar. Istri mengeluhkan agar saya lebih banyak lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan saya merasa sudah cukup membantu pekerjaan rumah tangga, apalagi di tengah-tengah kesibukan pelayanan yang menyita waktu dan energi saya. Untuk menyelesaikan pertengkaran ini, maka saya bertanya tentang bentuk kerjasama yang dapat dilakukan untuk mengatasi pertengkaran ini. Akhirnya, kami menemukannya.

Siang ini, tanpa diminta istri, saya menguras bak mandi. Ini merupakan salah satu harapan istri kepada saya. Ketika selesai menguras, istri melihat usaha saya dan ia pun senang dan berkata, "Yang, terima kasih kamu sudah menguras bak mandi." Lalu hal yang lebih menyenangkan bagi saya adalah ketika istri berkata, "Yang, nanti setelah sinyo (panggilan akrab anak kami) bobok, kita makan gudeg Mbak Yus yuk." Saya terkejut dan senang karena gudeg Mbak Yus adalah makanan favorit saya. Aha . . . sekali lagi saya melihat pentingnya kerjasama kedua pasangan. Saya menyenangkan istri dan istri pun menyenangkan saya. Inilah kerjasama yang membuahkan hasil.

Teman-temanku, selamat bekerjasama!


Wednesday, May 21, 2008

AN ORDERED DISTANCE FOR A BETTER MARRIAGE

To some extent, it could be a refreshing one to a marriage when a couple makes a distance for a while. I experience this when I went out of the town without my wife and kid. Sometimes it happened due to my duty--to join a seminar in Jakarta or follow a grand meeting in somewhere. But sometimes it took place due to my vacation.

However, from the distance, I become more appreciate of my wife. I learn how to appreciate his existence. I realize that my wife is VIP (Very Important Person) to my life. And as a result, I become more love to her. Sort of feelings would happen because of an ordered distance. I mentioned an ordered distance since I and my wife have realized about the important of making a distance for a while in our marriage. I know that this method can't be generalized to all couples, yet I think it's worth examining.

Saturday, November 03, 2007

GANGGUAN JARINGAN INTERNET

Sudah nyaris satu minggu jaringan internet di gereja terganggu. Pesan elektronik mengalami trouble, saya kesulitan untuk sending message. Selain itu, saya juga kesulitan untuk browsing internet. Kadang bisa tapi banyak tidak bisanya. Ini sungguh menyebalkan! Menyebalkan karena bahan-bahan khotbah ataupun pembinaan yang biasanya dapat dicari melalui internet jadi sulit didapat. Saya akhirnya harus menggunakan resources yang ada di rak buku. Rekan-rekan sepelayanan juga complaint karena selain mencari bahan-bahan menjadi sulit, perputaran kinerja di gereja yang kadangkala menggunakan internet menjadi terganggu. Rupanya, semua jadi jengkel dengan gangguan jaringan internet.

Dari peristiwa ini saya merenung bahwa seringkali gangguan jaringan internet jauh membuat hati kita lebih kesal ketimbang kita mengalami gangguan jaringan dengan Tuhan. Ketika kita mengalami gangguan jaringan dengan Tuhan, kita justru merasa tidak terganggu, merasa biasa saja, dan bahkan mungkin merasa nyaman. Misalnya saja, bila kita mungkin sudah tidak lagi bersaat teduh sekian lama, atau sudah kehilangan makna ketika beribadah, maka apakah kita merasa jengkel dengan gangguan jaringan seperti demikian? Hmmm . . . mari kita sama-sama khawatir karena mungkin gangguan jaringan internet telah membuat hati kita lebih kesal ketimbang kita mengalami gangguan jaringan dengan Tuhan.

Tuesday, October 30, 2007

ANTARA OLAHRAGA DAN KESEHATAN JIWA

Saya penggemar olahraga bulutangkis. Setiap hari Senin saya hampir selalu bermain bulutangkis bersama dengan rekan-rekan hamba Tuhan, karyawan gereja, jemaat, dan kenalan-kenalan di luar gereja. Setiap hari Minggu malam saya senantiasa menanti-nantikan dengan tidak sabar untuk ingin segera memasuki hari Senin.

Melalui aktivitas itu, saya bisa memuaskan apa yang menjadi kegemaran saya. Sejak SMP saya telah menyadari bahwa hobi saya adalah bermain bulutangkis. Mengikuti les bulutangkis adalah salah satu cara untuk saya bisa memaksimalkan hobi ini. Akhir-akhir ini saya sering prihatin dengan para siswa-siswi yang sibuk dengan segala tetek-bengek rutinitas sekolah yang masih ditambah dengan les sana-sini. Dampaknya, mereka sulit untuk menikmati atau bahkan mengembangkan hobinya. Bukankah dampak ini akan merembet pada dampak yang buruk pada psikologi orang tersebut? Stress, depresi, kejenuhan, merasa kesepian adalah beberapa dampak buruk pada psikologi orang yang terperangkap dalam rutinitas kerja/sekolah.

Selain memuaskan apa yang menjadi hobi saya, olahraga yang satu ini ternyata mampu membuat jiwa saya terasa lebih segar dan sehat. Tahukah kenapa? Karena melalui badminton, saya menemukan sarana untuk mengekspresikan diri apa adanya. Di sana saya bisa melepaskan perasaan tegang, stress, ingin marah, dan emosi-emosi lainnya. Berteriak di lapangan bulutangkis seringkali menjadi satu "pelepasan" emosi yang mungkin selama seminggu sudah terpendam. Yah, puji Tuhan, saya masih memiliki sarana untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam hati saya.

Pernah satu ketika seorang rekan bercerita tentang permasalahan hidupnya. Setelah hampir setengah jam kami berbincang-bincang, saya mengusulkan agar ia datang ke tempat bulutangkis untuk bermain dan berteriak. Dia pun setuju karena ia menyadari bahwa bermain bulutangkis bisa menjadi sarana untuk melepaskan apa yang menjadi beban dalam hatinya. Kawan, bila Anda sedang memiliki masalah dan rasanya ingin diekspresikan dengan sebebas mungkin, maka pergilah berolahraga. Rasakan nikmatnya!

Dan manfaat terakhir yang saya bisa rasakan adalah olahraga dapat membantu stamina tubuh. Mungkin hal ini sudah lumrah untuk didengar. Olahraga memang dianggap sebagai aktivitas yang menyehatkan tubuh. Tapi yang saya mau tekankan adalah bahwa dengan stamina tubuh yang prima maka saya lebih mampu mengendalikan emosi. Ketika saya sedang sakit, maka saya cenderung ingin marah. Tetapi ketika saya sehat dan stamina sedang fit, maka saya menjadi tidak mudah marah. Bukankah ini adalah manfaat yang baik bagi kehidupan manusia?

Jadi, saya share hal ini agar para pembaca dapat segera berolahraga. Dan bagi Anda yang memang sudah berolahraga, coba nikmati dan perhatikan bagaimana olahraga itu dapat memengaruhi kesehatan jiwa Anda. Dengan memerhatikan hal ini, maka Anda makin dapat mengembangkan kesehatan jiwa melalui sarana olahraga.

Thursday, October 04, 2007

KOMIT (KELOMPOK INTI)

Kemarin komit (kelompok inti) dimulai. Sebenarnya program ini bukan barang baru karena sebelumnya gereja telah mengadakan kelompok 40 DOP (Days of Purpose) selama enam kali berturut-turut. Oleh karena kami melihat keefektifan pembinaan dan persekutuan melalui kelompok-kelompok kecil, maka kami sepakat untuk meneruskan kelompok sel menjadi salah satu basis gereja, selain kebaktian mingguan.

By the way, saya pribadi sangat senang dengan adanya komit ini. Banyak keuntungan pribadi yang saya petik dari komit, misalnya: (1) Saya, sebagai hamba Tuhan, dapat lebih mengenali pergumulan jemaat. Di sana saya lebih memahami seluk-beluk jatuh bangunnya jemaat. Pendekatan personal bisa terasa sekali dalam kelompok itu; (2) Saya melihat bahwa menciptakan community of healing (komunitas penyembuh) dapat lebih terealisasikan. Menciptakan komunitas penyembuh akan tampak mustahil bila kita hanya mengkhotbahkannya di mimbar setiap minggu. Itu jelas tidak cukup! Tapi dengan adanya komit, kita dapat perlahan-lahan membentuk komunitas yang saling menyembuhkan; (3) Saya sendiri pun belajar lebih transparan dengan jemaat. Kelompok kecil mendesak saya untuk berbagi pergumulan pribadi. Nah dari situlah saya belajar untuk lebih transparan kepada jemaat. Ada baiknya bila jemaat juga mengenali apa yang menjadi pergumulan seorang hamba Tuhannya sebagai manusia biasa.

Finally, thank to the Lord for giving me a community to heal and to be healed.

Tuesday, October 02, 2007

Rekreasi dengan Karyawan


Senin, tanggal 1 Oktober, kami para hamba Tuhan mengadakan rekreasi bersama dengan para karyawan gereja. Kami pergi ke Yogyakarta dan pantai Kukup di Wonosari. Wah senang sekali rasanya bisa pergi bersama dengan mereka. Gereja kadang lupa bahwa para karyawan memiliki peran yang sangat besar. Mereka adalah orang-orang yang seringkali kurang diakui dan dihargai jemaat karena posisi mereka yang "tak kelihatan" atau kalaupun kelihatan, mereka tampak seperti seorang yang rendah statusnya. Tapi pandangan ini jelas salah. Hamba Tuhan justru membutuhkan mereka. Tanpa mereka, program-program gereja tidak akan berjalan dengan baik. Lagipula, dalam pandangan Tuhan mereka dan para hamba Tuhan adalah sama-sama pelayan-Nya. Tidak kurang dan tidak lebih. Nah melalui rekreasi bersama dengan hamba Tuhan inilah, kami belajar menghargai mereka. Terima kasih atas pelayanan kalian selama ini!

Friday, July 20, 2007

Yesus Sayang Padaku/Cu Yesu Ai Wo

Seorang bertemu dengan teolog besar Karl Barth dan bertanya, "Apa yang telah kamu pelajari dari teologi selama ini?" Karl Barth merenung sejenak, lalu berkata, "Jesus loves me this I know" (Yesus sayang padaku, ini yang aku tahu). Mungkin dari sinilah muncul lagu sekolah Minggu berjudul "Yesus Sayang Padaku." Lagu ini sederhana, tapi mendalam. Lagu ini mudah diingat dan mampu menjawab kebutuhan manusia--kebutuhan akan dikasihi oleh Tuhannya.

Lagu ini pulalah yang sering dinyanyikan oleh jemaat yang menderita kanker itu. Ia senang menyanyikan lagu itu dalam bahasa Mandarin karena memang ia lebih fasih berbahasa Mandarin. Dalam kesederhanaan dan keterbatasannya untuk menyanyi, ia melantunkan demikian, "Cu Yesu ai wo, cu Yesu ai wo, cu Yesu ai wo, ing wei sen ching kao su wo" (Yesus sayang padaku, Alkitab yang mengajarkanku).

Dari pengalaman menemani jemaat tersebut, saya melihat bahwa alangkah baiknya bila tim pembesukan mempersiapkan lagu yang bisa dikidungkan secara sederhana dan mudah diingat. Kadang saya melihat tim pembesukan hanya datang dan mendoakan jemaat. Bukan saya meragukan kuasa doa, namun saya justru melihat bahwa pelayanan pembesukan akan lebih powerful bila tim melantunkan satu lagu sederhana buat jemaat yang sedang sakit di samping mendoakannya.

Salah satu lagu sederhana dan mudah diingat adalah: "Yesus Sayang Padaku." Lengkapnya berbunyi demikian: "Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku. Walau kukecil lemah, aku ini milik-Nya. Reff.: Ya Yesus sayang, ya Yesus sayang, ya Yesus sayang, Alkitab m'ngajarku."

Thursday, July 19, 2007

TERUS MENCARI DAN MENCARI TERUS

Baru-baru ini, Tuhan memberi saya kesempatan untuk mengunjungi seorang jemaat yang terserang kanker secara intensif. Ia sudah bertahun-tahun menjalani kemoterapi di luar negeri. Alhasil, rupanya kemoterapi tersebut tidak membuahkan hasil yang maksimal. Lalu, keluarga pun mencari pengobatan di tanah air Indonesia. Dari kota A ke kota B, mereka terus mencari dan mencari terus. Harapannya cuma satu, sembuh.

Namun singkat cerita, jemaat ini semakin mengalami kondisi yang kritis. Kanker yang ada pada tubuhnya semakin menyebar ke mana-mana. Ia menyebar ke dalam organ-organ yang vital. Oleh karena kondisinya yang sangat kritis, maka dokter pun memutuskan agar ia dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Di sanalah, di ruang ICU, jemaat tersebut terbaring lemah. Hidung dan mulut telah dipasang dua selang. Di kedua selang itu masih dipasangi selang-selang lain dengan fungsi dan tujuan yang berbeda-beda. Saat ini ia hanya bisa melek sesekali. Kebanyakan ia tidak sadarkan diri. Sungguh memedihkan hati melihat jemaat tersebut.

Apa yang ada dalam pikiran saya ketika melihat peristiwa itu? Banyak. Salah satu yang hari ini saya ingin share adalah mengenai pergumulan etis-teologis. To the point saja, pikiran euthanasia (mercy killing) pasif pun muncul dalam benak keluarga, termasuk dalam benak saya. Dari pengalaman yang demikian, saya berpikir bahwa situasi seperti inilah yang seringkali membuat orang untuk berpikir mengenai euthanasia. Keluarga merasa kasihan dengan si pasien yang adalah anggota keluarganya sendiri.

Terus terang, sebelum saya menerima pengalaman pelayanan ini, saya bersikukuh untuk berkata "tidak" pada euthanasia, baik pasif maupun aktif. Tapi setelah menerima pengalaman ini, maka saya tidak tahu apa yang harus dikatakan mengenai isu tersebut. Entahlah . . . satu sisi saya bersyukur karena pengalaman ini justru akan memperkaya diskusi dalam alam berpikir saya. Sebuah diskusi antara etika Kristen dan pengalaman di lapangan. Saya yakin bahwa orang yang hanya tahu teori etika Kristen tanpa ada pengalaman, maka ia akan menjadi orang yang kaku dan susah untuk menjadi relevan. Di sisi yang lain, pergumulan antara etika Kristen dan pengalaman telah membuat saya untuk tidak berani menjawab atas isu euthanasia. Padahal, suatu saat, entah kapan, saya sebagai seorang hamba Tuhan harus tetap memiliki jawaban. Tapi saat ini, itulah jawaban saya: tidak berani menjawab.

Ah entahlah, saya sendiri pun masih dalam perjalanan. Saya belum sampai. Saya adalah seorang yang terus mencari dan mencari terus. Semoga perjalanan saya tetap dapat menjadi berkat buat pembaca. Sang Ti cu fu ni!

Wednesday, January 10, 2007

I'M BUSY BECAUSE I'M LAZY?

Reading Eugene H. Peterson’s The Contemplative Pastor is just like seeing me in front of the mirror. Through his book, I’m asked to rethink about my ministerial life. At this time, I would like to share about my interaction with one of the chapters in the book, so-called the unbusy pastor. In this chapter, I’m asked to rethink the forgotten point. It is about the reason behind of my busyness.

Busyness is a word that I’d like to hear. I remember on one day my presbyter told me that he now sees that the pastors are working at the office. It seems that he likes this kind of lifestyle. At that time, for me, his statement has really made me proud of myself. I felt that what I did so far was not in vain. However, when I came across with Peterson’s reflection on the busyness, I must confess that he accurately shoots on the right target. He asks me to seek the reason behind of my busyness.

He describes the reason by exposing one beautiful statement, that is: I am busy because I am lazy. Peterson shocks me with his statement. How could a busy pastor be identical with laziness? However, Peterson writes that statement in the sense that the pastor may run from doing his/her original agenda and let the people who do not understand the pastoral calling to drive the agenda of the pastor. In other words, the busyness sometimes may be used as a mask to cover the laziness to minister according to his/her calling. To this extent, I think his explanation is partially relevant to my ministerial life since most of the times my presbyters give the freedom to every pastor to set their own agenda, program, and so on. Thank God for they still trust their pastors. Yet it doesn’t mean that I can run from Peterson’s warning totally since I’m still able to run from my first duty and doing the secondary.

I remember at once I ran from the first duty. At that time I saw friends who needed a pastor to visit a kid that had a cancer. Actually, I was free and able to join in that visitation. Yet I didn’t do it because I was not in the mood. What I was doing to run from the ministry is that I sat in front of my notebook and did something. I want them to see me as a busy man. And finally, they didn’t ask me to go. However, Peterson reminds me again about this embarrassing event. I pray that I will not repeat that foolish action by hiding behind the mask of my busyness.

Friday, October 27, 2006

Community of Healing or Community of Killing?

Saya bersyukur sama Tuhan karena saya bisa belajar di kelas "pastoral care and counselling" yang dipimpin oleh Mr. Anthony Yeo. Dari sana saya kembali diingatkan soal pentingnya membangun community of healing. Beliau bertanya, "Apakah selama ini kita sudah membawa healing bagi orang sekitar kita, atau sesungguhnya kita justru membawa killing?" Saya kembali merenung apakah tutur kata, perbuatan, tulisan, telah membawa healing bagi seseorang. Ah andai bukan cuma saya yang merenungkan hal ini, andai Anda yang membaca tulisan saya juga merenungkan hal ini. Dan andai, kita sama-sama belajar membawa healing bagi orang di dekat kita, oh betapa indahnya, karena kita akan membangun community of healing daripada community of killing. Good luck!