Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Monday, January 19, 2009

150 Tahun St Ursula, Mencetak Manusia Berkualitas

Oleh Indira Permanasari

SUDAH 150 tahun usia sekolah Santa Ursula di Jalan Pos, Jakarta. Ribuan murid silih berganti memasuki bangunan bergaya kolonial itu. Mulai dari saat anak masih datang ke sekolah menumpang kuda, seperti dalam foto tua yang ditunjukkan Kepala SMA Santa Ursula Moekti K Gondosasmito OSU, MEd, hingga kini menumpang kendaraan roda empat.

Sejumlah fasilitas juga berubah demi menyesuaikan kehendak zaman. Akan tetapi, satu hal yang tidak banyak berubah, yaitu roh pendidikan membangun manusia seutuhnya, baik intelektualitas, karakter, maupun kepekaan sosial.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono yang menempuh pendidikan menengah pertama dan atas di sana pada pertengahan tahun 1960-an pernah merasakan didikan para suster.

”Saya mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak lain. Ikut kerja bakti bersama anak- anak lain dan kalau salah ya disetrap. Saya paling ingat kebagian kerja bakti menggosok WC di samping kantor kepala sekolah dan menimba air di sumur,” kenangnya.

Dia juga menikmati cara para guru mengajar di sana. Bagaimana para guru menularkan semangat belajar dan bekerja keras. Saat belajar ilmu falak, misalnya, Meutia ingat mendapat pekerjaan rumah tentang matahari. Selama satu minggu murid wajib berdiri di satu titik dan mengamati matahari terbit.

”Setiap pukul enam pagi teng, saya mengamati pergeseran matahari dan menggambarkan posisinya,” ujarnya. Pentingnya ilmu, disiplin, kerja keras, dan budi pekerti menjadi pengalaman yang terekam di benaknya.

Didirikan suster Ursulin

Sekolah Santa Ursula di Jalan Pos didirikan tahun 1859 oleh para suster Ursulin di Indonesia. Ordo Santa Ursula mulai berkarya di Indonesia pada tahun 1856. Di Indonesia terdapat sekitar 15 yayasan di bawah Ursulin Indonesia yang menaungi sekolah-sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di Jawa dan luar Jawa.

Salah satunya adalah sekolah Santa Ursula di Jalan Pos yang menyelenggarakan pendidikan dari TK hingga SMA. Saat ini terdapat sekitar 5.000 anak menempuh pendidikan di sana.

Kedisiplinan dan prinsip egaliter termasuk kenangan yang membekas di benak Renata Arianingtyas, alumnus Santa Ursula angkatan 1990.

”Murid dan guru yang tidak masuk sekolah harus membawa surat izin dan lapor langsung ke suster kepala sekolah. Murid dan guru berbaris mengantre bersama-sama laporan ke suster. Kejujuran menjadi penting,” ujar Renata, alumnus sekaligus Program Manajer untuk Human Right, Citizenship, dan Equality Yayasan Tifa.

Soal disiplin itu masih berlaku sampai sekarang. ”Ada yang bilang sekolah Santa Ursula itu seperti di penjara dengan seragam kotak-kotak hijau. Namun, kita enggak merasa begitu kok. Kita diberikan kebebasan berpikir dan berekspresi,” ujar Dita, salah seorang murid kelas III SMP Santa Ursula.

Urusan kedisiplinan jangan dianggap main-main di sekolah itu. Rok tidak boleh naik di atas lutut dan kaus kaki tidak boleh menutupi betis. Dilarang makan dan minum di dalam kelas. Pengumpulan tugas tepat waktu. Selalu mengenakan seragam di lingkungan sekolah. Tepat waktu datang ke sekolah. Dilarang mencontek atau keluar dari sekolah. Buanglah sampah pada tempatnya, dipisahkan antara sampah organik dan nonorganik. Itu hanya sebagian ”aturan main”.

Kepekaan sosial

Di sekolah itu pula, para lulusannya diasah kepekaan sosialnya. Renata masih mengingat bagaimana suster berani mengambil jam pelajaran dua hingga tiga minggu untuk retret dan live-in atau tinggal bersama warga di komunitas tertentu yang berbeda dari keseharian para murid. Lewat kegiatan tersebut, mereka juga dibiasakan berpikir kritis.

”Biasanya mendekati akhir tahun ajaran di kelas III anak- anak sekolah lain sedang sibuk drilling mempersiapkan ujian akhir, tetapi kami malah pergi ke desa dan merasakan tinggal bersama warga. Anak Sanur (Santa Ursula) banyak yang berasal dari kelas menengah dan atas. Lewat pengalaman tersebut, siswa belajar bahwa ada realitas yang berbeda,” ujarnya.

Asahan kepekaan sosial tersebut juga dirasakan presenter sekaligus Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV Rosiana Silalahi. Pada masanya, Rosiana termasuk tim pengajar anak-anak miskin di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dia juga masih mengingat setiap tanggal 17 setiap bulannya sekolah mewajibkan mereka menggunakan transportasi umum.

”Tidak boleh naik taksi. Harus transportasi umum seperti bus, bemo, atau bajaj,” ujar Rosiana.

Dalam bukunya, Catatan Seorang Pendidik; Fikir, Suster Francesco Marianti, OSU yang 25 tahun memimpin SMA Santa Ursula, menegaskan bahwa pendidikan meliputi seluruh aspek dalam diri manusia. Aspek intelektualitas, keterampilan, kepribadian, dan kepekaan sosial diberi peluang berkembang semaksimal mungkin. Hal tersebut sesuai dengan misi Serviam, yang berarti ”aku mengabdi” tujuan pendidikan membentuk manusia mandiri, berkepribadian utuh, humanis, serta berorientasi pada nilai-nilai luhur.

Kepala SMA Santa Ursula Moekti K Gondosasmito OSU, MEd, mengatakan, metode pengajaran di sekolah Santa Ursula adalah membantu kaum muda agar bertumbuh dengan utuh baik intelektual, karakter, dan kepekaan sosial. Bahasa barunya barang kali komunitas pembelajar yang interaktif, inovatif, dan kreatif.

Intelektualitas dikembangkan melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan pemberian tugas agar potensi peserta didik bisa optimal.

Pada akhirnya yang terkenang dari sebuah institusi pendidikan bukan dahsyatnya nilai rapor atau berbagai piala, tetapi nilai-nilai yang dapat mereka pakai dalam kehidupan serta karya di masyarakat.

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/19/0701348/150.Tahun.St.Ursula..Mencetak.Manusia.Berkualitas

Saturday, January 10, 2009

Jam Masuk Lebih Pagi, Dampak terhadap Anak Harus Dipantau

Senin, 5 Januari 2009 | 18:35 WIB

JAKARTA, SENIN — Perubahan jam masuk sekolah menjadi lebih pagi, terutama bagi para siswa sekolah dasar, harus berhati-hati dan dievaluasi secara periodik. Kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu ada kemungkinan berdampak negatif bagi pertumbuhan fisik dan emosional anak dalam jangka panjang.

Menurut Soedjatmiko, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, dalam jangka panjang, perubahan jam masuk jadi lebih pagi itu dapat menimbulkan masalah pada interaksi orangtua dan anaknya pada pagi hari.

"Kebijakan itu juga menimbulkan ketegangan dan kecemasan setiap pagi, serta dampak fisik dan emosional pada anaknya," kata Soedjatmiko.

Bagi para orangtua, terutama bila rumahnya jauh, mereka harus menggunakan kendaraan umum sehingga harus bangun lebih pagi, tegang, dan tertekan karena takut anaknya terlambat bangun dan terlambat masuk sekolah, takut anaknya dihukum atau tidak boleh masuk ke kelas. Hal ini bisa diatasi dengan membiasakan tidur tidak larut malam, tidak menonton TV terlalu malam, dan membiasakan memasang alarm jam.

Namun, ada anak yang sulit bangun pagi karena harus tidur larut malam untuk mengerjakan tugas sekolah atau menonton televisi terlalu malam. Hal ini mengakibatkan orangtua bersikap kurang manis terhadap anaknya kalau anaknya susah dibangunkan atau terlambat bangun.

Orangtua makin tegang dan tertekan sehingga cenderung bersikap lebih kasar pada anaknya. Interaksi ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi orangtua dan anaknya. Bayangkan kalau tiap pagi hal ini terjadi, secara kumulatif akan menimbulkan masalah, baik pada orangtua maupun anaknya. Anak akan cenderung jengkel, sebal, ketakutan, dan marah. Gangguan emosional dalam jangka panjang tentu menyebabkan hubungan anak dan orangtua jadi kurang manis.

Tidak sarapan

Selain itu, perubahan jam masuk sekolah jadi lebih pagi menyebabkan anak tidak sempat sarapan di rumah. Padahal, sarapan sangat penting karena proses belajar 5-6 jam membutuhkan bahan bakar untuk tubuh, terutama otak. Sarapan juga diperlukan untuk pertumbuhan fisik anak khususnya menjelang remaja usia 9-18 tahun yang pertumbuhannya sangat pesat.

Maka dari itu, para orangtua sebaiknya membawakan bekal yang dapat dimakan selama di jalan atau ketika istirahat. Sarapan dan jajanan ketika istirahat harus bergizi lengkap dan seimbang, ada sumber tenaga berupa roti, kentang, mi, dan roti, serta ada sumber protein berupa telur, baso, tempe, dan ayam. Sarapan juga mengandung bahan makanan sumber lemak, yaitu mentega, ada sumber vitamin mineral berupa jeruk, pisang, apel, dan lebih lengkap lagi bila ditambah susu.

"Pilihan kombinasi disesuaikan dengan selera anak. Sebaiknya porsinya jangan terlalu banyak sehingga tidak terlalu kenyang dan tidak mengantuk ketika belajar. Selain sarapan, sebaiknya anak juga dibekali dengan makanan kecil atau jajanan untuk dimakan sewaktu istirahat sehingga kebutuhan nutrisi tercukupi," kata Soedjatmiko.

Kalau anak tidak sarapan, tetapi malamnya makan dalam jumlah yang cukup dan ketika istirahat makanannya cukup, tentu tidak terlalu riskan. Namun, kalau tidak sarapan sama sekali, dan ketika istirahat tidak makan, tentu kebutuhan otak untuk mencerna pelajaran hari itu akan kalah dibanding teman-temannya yang sarapan dan ditambah makan ketika istirahat.

Di sepanjang jalan yang macet, terutama bila dengan kendaraan umum, anak jadi tegang dan tertekan, takut terlambat sekolah, takut dihukum, tidak boleh masuk, malu diejek temannya sehingga ada beberapa anak memilih tidak masuk sekolah daripada terlambat agar tidak dihukum dan diejek teman-teman. Ini bisa membuat angka membolos meningkat.

"Suasana tegang dan tertekan sejak bangun pagi yang dirasakan setiap hari, secara kumulatif bisa menimbulkan gangguan emosional berupa anak cemas, mudah marah, frustasi, tetapi tidak tahu harus melampiaskan kepada siapa. Akibatnya akan mudah timbul ledakan-ledakan emosional serta prestasi belajar, karena tertekan dan kurangnya asupan makanan, " kata Soedjatmiko.

Asumsi-asumsi itu belum tentu benar, tergantung banyak faktor di antaranya jarak dari rumah ke sekolah, kebiasaan bangun pagi, sikap orangtua, kemudahan transportasi, kelancaran lalu lintas, toleransi sekolah, sosial anak, dan kecerdasan anak, ujarnya. Namun untuk sebagian anak bisa menimbulkan masalah yang terus dialami.

Maka dari itu, Soedjatmiko menyatakan perlu ada kajian psikologis periodik apakah perubahan jam pelajaran ini menguntungkan atau merugikan anak.

"Jangan sampai kebijakan mengatasi masalah transportasi justru menimbulkan dampak yang lebih besar di masa depan, generasi yang emosional dengan tingkat kecerdasan kurang. Mudah-mudahan asumsi ini tidak terbukti," kata dia.


Evy Rachmawati
http://kompas.com/read/xml/2009/01/05/1835065/jam.masuk.lebih.pagi.dampak.terhadap.anak.harus.dipantau

Tayangan Kartun Bahayakan Perkembangan Anak

Sabtu, 22 November 2008 | 12:10 WIB

MAKASSAR, SABTU--Tayangan film kartun yang disiarkan stasiun televisi swasta di Indonesia, harus diwaspadai karen dapat membahayakan perkembangan mental dan interaksi sosial anak.

"Kartun produk luar negeri yang ditayangkan itu lebih banyak menampilkan kekerasan, bahasa yang kasar dan lebih bersifat merendahkan orang lain, misalnya kartun Spongebob, Tom & Jerry dan Shinchan," kata Ketua KPID Sulsel Aswar Hasan, di Makassar, Jumat.

Ia mengatakan, pengaruh dari menonton televisi itu, menyebabkan banyak anak-anak tidak tahu lagi sopan-santun terhadap orang tua.

Lebih jauh dijelaskan, berdasarkan hasil survei KPI diketahui, 70 persen tayangan televisi swasta lebih banyak menampilkan unsur hiburan daripada unsur pendidikan. Padahal fungsi dan peran media massa setidaknya harus menyeimbangkan fungsi hiburan, pendidikan, informasi, dan kontrol sosial.

Hal senada dikemukakan aktivis LBH-APik Sulsel, Lusi Palulungan, yang memfokuskan diri pada upaya perlindungan anak dan perempuan.

Menurutnya, saat ini para orang tua harus mewaspadai film-film kartun asal Jepang yang materinya lebih banyak memaparkan kekerasan fisik, kekuatan mistik atau gaib, serta menggambarkan nilai moral yang tidak masuk akal.

Lebih jauh dijelaskan, secara umum tayangan televisi tanpa disadari dapat mempengaruhi perkembangan mental, kecerdasan dan kemampuan berpikir anak. Hal itu disebabkan karena adanya rangsangan imajinasi melalui stimulus bunyi dan gambar secara terus-menerus. "Kondisi itu menyebabkan kemampuan konsentrasi anak menjadi pendek," katanya.

Selain itu, dampak negatif tayangan TV juga menyebabkan berkurangnya aktivitas dan sosialisasi anak, karena anak cenderung hanya duduk pasif menonton televisi daripada bermain dengan sesamanya. Akibatnya, keterampilan emosi dan sosial anak tidak terasah dengan baik.

Karena itu, baik Aswar maupun Lusi mengimbau agar orang tua selalu menadampingi anak-anaknya dalam menonton tayangan yang dinilai membahayakan perkembangan anak.

Di sisi lain, orang tua juga harus bersikap tegas memberikan batasan waktu menonton, paling lama dua jam sehari.(ANT)

http://kompas.com/read/xml/2008/11/22/12105854/tayangan.kartun.bahayakan.perkembangan.anak

Friday, January 09, 2009

Anak yang Dipercepat

Sekolah telah tiba, ayo sekolah mari bergembira! Apakah kalimat ini menjadi refleksi dari wajah anak-anak kita saat mereka kembali ke sekolah? Ataukah justru sebaliknya, anak-anak merasa tertekan dan tidak bergembira saat kembali ke sekolah?

Kembali ke sekolah mungkin saja sudah tidak lagi menyenangkan dan menggembirakan bagi anak-anak. Bayangan akan berbagai tuntutan di sekolah baik dari orangtua maupun guru mereka membuat anak merasa sekolah hanya menjadi beban. Tuntutan untuk lebih cepat, paling baik, dan tidak boleh gagal mewarnai pikiran anak saat mereka kembali ke sekolah.

Anak-anak pada masa kini bertumbuh dalam tekanan untuk "lebih cepat". Dalam banyak hal anak telah di"paksa" untuk mencapai dan mengalami pertumbuhan yang cepat. Lihat saja dari cara berpakaian anak-anak yang masih balita. Mereka berpakaian layaknya orang dewasa. Suatu kali, saya harus membeli oleh-oleh berupa pakaian bagi keponakan saya yang baru berumur 2 tahun. Saya menemukan hampir semua pakaian yang dijual bagi anak-anak usia tersebut adalah model pakaian orang dewasa yang dibuat dalam ukuran kecil. Anak-anak tampil layaknya orang dewasa. Siapakah yang paling senang melihat hal tersebut? Tentu saja orang dewasa itu sendiri.

Tekanan untuk bertumbuh lebih cepat ini terjadi dalam berbagai hal dalam kehidupan anak seperti dalam pendidikan, gaya pengasuhan, media, dan lain-lain. Dalam hal pendidikan khususnya, sistem di sekolah telah memperlihatkan bagaimana industrialisasi sekolah memberikan dampak bagi percepatan ini. Saat ini setiap sekolah sedang berlomba untuk memiliki ciri khas dalam dirinya yang dapat menjadi daya saing dalam persaingan antar sekolah saat ini. Semakin "internasional" suatu sekolah, semakin "inggris" bahasanya, semakin kompeten kurikulumnya, dan terutama tentu saja semakin mahal harganya adalah sekolah-sekolah yang paling dicari dan diinginkan. Ketika anak hendak memasuki sekolah-sekolah tersebut mereka layaknya orang yang sedang mencari pekerjaan, karena mereka harus mengalami tes dan wawancara penerimaan sekolah. Sekolah berhak menentukan apakah anak tersebut sesuai atau tidak dengan sistem sekolah mereka. Maka anak yang dianggap tidak cukup kompeten dan sesuai dengan sistem akan tersingkir.

Demikian pula dengan kurikulum sekolah yang ada sekarang di sekolah-sekolah telah berorientasi pada "produk" daripada prosesnya. Produk menentukan keberhasilan suatu sekolah. Anak-anak juara di tingkat nasional, internasional, olimpiade, telah menjadi kebanggaan bagi suatu sekolah untuk memamerkan kehebatan sekolah mereka. Maka sekolah membuat kurikulum yang mencetak anak-anak juara. Menurut David Elkind, kurikulum sekolah telah dibuat menjadi "assembly-line" atau dalam istilah bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pabrikan. Saat pabrik membuat mobil, mereka memiliki rangka kendaraan yang kemudian tinggal disatukan dan dijadikan sebuah mobil. Maka sebuah mobil dibuat berdasarkan rangka yang sudah dicetak berdasarkan modelnya. Seperti halnya demikian, dalam kurikulum sekolah anak yang harus menyesuaikan diri dan mengikuti sistem bukan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Sampai disini kita dapat melihat bahwa tidak ada tempat bagi anak yang "terlambat". Anak harus lebih cepat. Tidak ada tempat bagi anak yang tidak mampu, semua anak harus mampu. Tidak ada tempat bagi anak yang membutuhkan waktu, semua harus mencapai standar yang sudah ditetapkan sistem. Anak tidak boleh gagal, anak harus menjadi juara dalam dunia yang semakin cepat ini. There is no place for a loser.

Yang lebih menekan lagi bagi anak adalah ketika orangtua terpengaruh dengan sistem yang ada seperti ini. Ketika orangtua melihat dan merasakan cepatnya sistem yang ada di sekolah hanya ada satu hal yang ada di pikiran mereka yakni mereka tidak ingin anak mereka tertinggal dan kalah dalam persaingan dengan anak yang lain. Orangtua ingin anak mereka sama cepatnya dengan anak lain sehingga orangtua akan memberikan les tambahan, dan berbagai kursus singkat. Seorang anak dari teman saya pernah mengeluh kepada kakeknya, " Kakek, aku tidak mau sekolah lagi. Capek!". Ia membandingkan diri dengan kakeknya yang berangkat bekerja pada pukul 8 pagi dan sudah pulang pada pukul 6 sore. Anak itu sendiri berangkat sekolah pada pukul 6:30 pagi dan baru pulang pada pukul 7 malam hari setelah ia menghabiskan waktu dengan berbagai les dan kursus tambahan.

Siapakah yang paling tertekan dalam percepatan dunia seperti ini? Tentu saja jawabnya adalah anak-anak itu sendiri. Anak-anak kita berada dalam kondisi stres yang sangat tinggi. Anak-anak yang berpakaian, berpikir, dan bersikap seperti orang dewasa adalah anak yang sedang bermain peran. Mereka sedang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka sedang menjadi apa yang kita, orang dewasa inginkan mereka menjadi. Anak-anak kita sedang menutupi wajah mereka sendiri dengan berbagai topeng yang dikehendaki oleh sekolah, orangtua, dan lingkungan mereka.

Anak-anak kita mengalami dilema. Di satu sisi mereka sedang dipercepat oleh situasi yang ada di sekolah, di rumah, dan di lingkungan yang menuntut mereka untuk lebih cepat dewasa. Di sisi lain jiwa mereka adalah anak-anak.

Bagaimana sebaiknya? Yang harus diingat dan dimengerti dengan baik adalah bahwa anak membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan belajar. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita kecil kita belum mampu untuk berjalan dan kita membutuhkan waktu untuk mampu berjalan. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita belum mampu menaiki sepeda, kita membutuhkan waktu untuk belajar menaiki sepeda. Sama halnya demikian, anak-anak kita juga membutuhkan waktu untuk mempelajari berbagai hal dalam hidup mereka.

Perlakukanlah anak sebagai anak. Usahakanlah supaya kita sebagai orang dewasa dapat mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Dalam dunia yang semakin cepat ini, bantulah mereka untuk memiliki hidup yang seimbang antara belajar dan bermain. Walaupun kita mau tidak mau harus mengikuti sistem pendidikan yang semakin cepat ini, usahakanlah mencari alternatif agar membantu anak tidak semakin tertekan untuk dipercepat.

http://www.my-lifespring.com/artikel/anak_yang_dipercepat.php

Thursday, January 08, 2009

Mengenal Cara Belajar Individu

Oleh: Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi.

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.

Otak Sebagai Pusat Belajar

Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Di sekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· rapi dan teratur

· berbicara dengan cepat

· mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik

· teliti dan rinci

· mementingkan penampilan

· lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

· mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual

· memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik

· biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar

· sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)

· merupakan pembaca yang cepat dan tekun

· lebih suka membaca daripada dibacakan

· dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.

· jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara

· lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

· sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'

· lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah

· lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik

· seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja

· mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik

· lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca

· jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras

· dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara

· mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita

· berbicara dalam irama yang terpola dengan baik

· berbicara dengan sangat fasih

· lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya

· belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat

· senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

· mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi

· lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya

· lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· berbicara dengan perlahan

· menanggapi perhatian fisik

· menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka

· berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain

· banyak gerak fisik

· memiliki perkembangan otot yang baik

· belajar melalui praktek langsung atau manipulasi

· menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung

· menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca

· banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)

· tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama

· sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut

· menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

· pada umumnya tulisannya jelek

· menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)

· ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

http://www.e-psikologi.com/remaja/260902.htm