Tuesday, February 13, 2007

PEDULI TERHADAP PEMERINTAH

Roma 13
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah . . .” (Rm. 13:1)

Semenjak Bapak Soeharto lengser keprabon, maka saat itu rakyat Indonesia mulai berani memekikkan reformasi. Menikmati orde reformasi, demikianlah cita-cita rakyat Indonesia saat itu dan saat ini. Tapi apa yang kita dapatkan sekarang? Yang kita dapatkan adalah bukannya reformasi, melainkan repot nasi. Tak pelak lagi, orang-orang sangat mudah untuk berdemonstrasi; dan parahnya, ada yang berani berbuat anarkis, tak peduli terhadap hukum. Sekarang, bagaimana orang Kristen menanggapi hal ini?

Bagi saya, sah-sah saja orang Kristen melakukan demonstrasi demi menyampaikan aspirasi yang bermakna kepada pemerintah. Ambillah contoh, ketika beberapa kalangan sekolah dan gereja Kristen, serta gereja Katolik berdemonstrasi untuk menggagalkan RUU Sisdiknas. Menurut hemat saya, mereka justru sedang menunjukkan sebuah keprihatinan terhadap nasib anak bangsa. Sikap prihatin terhadap masa depan negara inilah yang harus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Berbeda halnya dengan sikap anarkis. Sikap ini justru merunyamkan masalah yang sudah runyam. Orang Kristen tidak pantas melakukan hal ini. Sikap ini merupakan bentuk ketidakhormatan terhadap pemerintah yang ada. Allah, secara jelas, menandaskan bahwa kita harus takluk kepada pemerintah. Apa sebabnya? Karena tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Semua pemerintah diangkat dan ditetapkan dalam bingkai perizinan Allah. “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (ay. 2).

Jadi, sikap orang Kristen terhadap bumi pertiwi Indonesia adalah peduli terhadap masa depan pemerintahan kita. Kepedulian terhadap negara dapat diwujudkan dalam bentuk doa bagi bangsa, membayar pajak secara tepat waktu, mendukung pemberantasan korupsi yang dimulai dari lingkup pekerjaan kita, membantu fakir miskin dengan menjadi orang tua asuh, atau bila perlu, melakukan demonstrasi secara arif dan bijaksana. Akhirnya, sikap yang peduli terhadap pemerintah, menurut 1 Timotius 1:1-3, merupakan sikap yang baik dan berkenan kepada Allah.

Boleh saja tidak puas dengan pemerintah, namun jangan sampai tidak peduli dengannya

2 comments:

Student of the Church Fathers said...

Saya sdh pernah membaca posting ini, memang menarik. Tapi setelah saya coba menalar pikiran pemerintah dari depan ke belakang dan kembali lagi, saya cukup bergumul apakah Paulus tengah bicara masalah ketaatan kepada pemerintah, atau "pemberontakan secara senyap" terhadap pemerintah??

Maksud yang terakhir adalah, kalau dikaitkan dengan pasal-pasal depan, apakah Paulus tidak sedang mengajak gereja berani berkata TIDAK kepada pemerintah? Bdk ketika ia menyebut Yesus sebagai Anak Allah kepada jemaat Roma. Ketika Paulus bicara tentang mati dan bangkit bersama Kristus!

Wow, ada kode-kode rahasia yang harus dipecahkan. Nah, secara praktis, kalau demikian, mis. USA yang merasa dirinya sebagai penjaga dunia, bertindak anarkis kan juga mengatasnamakan Allah.

Apakah Teologi Pembebasan dapat menjadi alternatif??? Semoga.

Andrew A. S. said...

lah terus bagaimana dengan ayat emasku itu. kan di situ jelas kalau jemaat Roma suruh tunduk pada pemerintah karena ia berasal dari Allah?