Wednesday, February 21, 2007

KEMULIAAN-NYA KEBAHAGIAANKU: DIALOG IMAJINER

Daniel 1
“Tuhan menyerahkan Yoyakim . . . ke dalam tangannya [Nebukadnezar]” (Dan. 1:2a)

“Kenapa harus aku?” tanya Yoyakim kepada Tuhan saat ia berada di sorga. Belum sempat dijawab oleh Tuhan, Yoyakim kembali melanjutkan, “Tuhan, kenapa sewaktu aku hidup di bumi, Engkau membiarkan aku jatuh ke dalam kuasa raja Nebukadnezar. Dia itu orang kafir. Najis bagiku.” Tuhan tersenyum mendengar perkataan itu. Lagi-lagi, belum sempat dijawab oleh Tuhan, Yoyakim meluncurkan pertanyaan berikutnya, “Apa Tuhan tidak tahu kalau aku dan rakyatku menderita? Apa Tuhan tidak tahu kalau kami dipaksa untuk meninggikan Nebukadnezar dan menyembah dewa-dewa mereka? Setiap hari kami hidup dalam tekanan.”

Tuhan pun segera menjawab. “Anakku Yoyakim, coba lihat kitab Daniel 1:2a? Bukankah di sana sudah dituliskan mengapa kamu dan pemerintahanmu jatuh ke dalam tangan raja Babel?” Tanpa banyak ba-bi-bu, Yoyakim segera mengambil dan membaca kisah itu. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Dengan rasa jengkel, Yoyakim bertanya dengan ketus, “Apa ini tidak salah tulis? Masakan di sana tertulis bahwa Engkau menyerahkan aku pada raja Babel? Engkau menyerahkan aku? Apa maksudnya?” Tuhan lalu menerangkan, “Anakku Yoyakim, ketahuilah bahwa sebenarnya kehidupanmu memang bukan berbicara tentang dirimu, tapi diri-Ku. Aku menyerahkan dirimu untuk mengalami penjajahan demi kemuliaan-Ku. Ingat, kamu ada dan semua yang ada di bumi ini untuk menceritakan kemuliaan-Ku.”

“Tapi Tuhan, bukankah kenyataan ini sulit diterima oleh semua orang? Selama ini orang berpikir bahwa Engkau meluputkan mereka dari malapetaka. Semua orang Kristen, termasuk anak-anak Sekolah Minggu pun, sudah mengimani janji-Mu bahwa Engkau tidak akan merancangkan kecelakaan dan sebaliknya Engkau akan merancangkan kebahagiaan untuk anak-anak-Nya.” Sambil tertunduk sedih, Tuhan melanjutkan, “Itulah yang belum dimengerti mereka. Mereka terus memikirkan diri mereka. Akhirnya, kebahagiaan yang Aku janjikan juga dimengerti sesuai dengan pengertian mereka. Tidak ada penyakit, tidak ada malapetaka, tidak ada kebangkrutan, dan semua hal yang mendatangkan kenikamatan bagi mereka, itulah arti kebahagiaan bagi mereka. Oh, andai mereka bisa mengerti bahwa hanya kemuliaan-Ku itulah yang menjadi kebahagiaan mereka.” Yoyakim pun terdiam.

Apa yang membuat kita sulit berpikir bahwa kebahagiaan terbesar kita terletak pada kemuliaan Tuhan semata?

1 comment:

Student of the Church Fathers said...

Nice photograph! A scholar way of pose.