Wednesday, February 28, 2007

GEREJA: COMMUNITY OF HEALING OR KILLING?

Lembaga peradilan Indonesia benar-benar memprihatinkan. Menurut hasil survei yang dilakukan Transparansi Internasional Indonesia (TII), peradilan menjadi lembaga yang paling sering meminta suap. Sebanyak 1.760 responden secara bulat (100 persen) mengaku dimintai pungutan tidak resmi oleh institusi penegak hukum itu. (Lihat Jawapos Online, Rabu, 28 Februari 2007 di: http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=8245)

Wah mengenaskan ya. Lembaga peradilan yang justru paling banyak melakukan ketidakadilan. Tapi tunggu dulu, apakah jangan-jangan gereja juga sama saja dengan lembaga peradilan? Gereja yang seharusnya berfungsi sebagai paguyuban penyembuh (community of healing) antar satu jemaat dengan yang lainnya, apakah kini sudah berubah fungsi menjadi paguyuban "pembunuh" (community of killing)? Selain untuk menyembah Allah secara komunal, gereja seharusnya menjadi tempat berlindung bagi semua orang. Di gerejalah, jiwa setiap orang akan merasakan kedamaian karena mestinya gereja mencerminkan bagaimana seharusnya anak-anak Allah hidup. Bila di dunia luar, jemaat sudah "bertarung" dengan kerasnya kehidupan dan pekerjaan, maka di dunia gerejalah jemaat dapat menemukan "tempat perteduhan" baginya.

Bolehkah saya membayangkan gereja sebagai tempat perkemahan rumah sakit militer? Tempat itu berfungsi untuk menyembuhkan luka-luka korban perang. Di sana ada fungsi penyembuh. Di sana ada tempat perteduhan. Di sanalah tempat orang-orang yang terluka. Saya kira ada kalanya gereja dapat disamakan sebagai tempat perkemahan rumah sakit militer. Para anggota yang terluka setelah bertempur di medan dunia luar, maka mereka akan tahu ke mana mereka harus pergi. Ya, mereka akan pergi ke gereja. To find a rest, to find a healing. Ke mana lagi mereka harus pergi bila mereka terluka? Semoga gerejaku dan gerejamu menjadi community of healing bagi semua jemaat.

Tuesday, February 27, 2007

IRI HATI: KANKER KEBAHAGIAAN

Daniel 6
“Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” (Dan. 6:6)

Sebuah kata-kata mutiara dari seorang yang bernama Harold Coffin mengatakan demikian: “Iri hati adalah seni menghitung berkat orang lain daripada berkat sendiri.” Saya kira kata-kata ini sangat cocok buat para pejabat dan wakil raja Darius dalam Daniel 6. Apa sebabnya? Perhatikan saja tingkah mereka ketika melihat Daniel yang diangkat menjadi pemimpinnya para wakil raja dan pejabat tinggi oleh raja Darius. Dalam bahasanya Harold Coffin, mereka menghitung berkat yang ada pada Daniel daripada berkat sendiri.

Lantas coba lihat akibat dari iri hati. Mereka langsung mengadakan persekongkolan untuk mencari-cari kesalahan Daniel. Mereka pergi menghadap raja untuk membuat aturan tentang ibadah yang mengharuskan semua rakyat menyembah dewa. Nah coba perhatikan apa yang mereka bicarakan pada ayat 8: “Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja . . . telah mufakat . . . .” Tunggu dulu! Apa benar “semua”? Jelas tidak, karena Daniel ternyata tidak dilibatkan dalam permufakatan itu. Artinya, mereka membohongi sang raja. Lihatlah sekarang, bermula dari dosa iri hati meluncur ke dosa perkataan dusta.

Tapi itu belum selesai. Dalam ayat-ayat berikutnya, mereka berhasil menjebak Daniel yang sedang berdoa pada Tuhannya. Daniel tertangkap basah oleh mereka. Akhirnya, mereka pun membawanya pada raja Darius agar Daniel dihukum sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, yaitu dilempar ke gua singa. Mereka tidak lagi peduli soal nyawa Daniel; bagi mereka, yang paling penting adalah Daniel harus segera dibasmi dari bumi ini. Nah perhatikan lagi, bermula dari dosa iri hati meluncur ke dosa pembunuhan. Bahaya, bukan?

Iri hati adalah seperti penyakit kanker yang terus menggerogoti kebahagiaan kita. Pelan tapi pasti merusak. Merusak siapa? Diri sendirilah yang paling dirusak oleh penyakit ini. Bila kita melihat orang tertentu yang sukses, maka kita merasa tidak senang. Bila kita melihat orang tertentu diberikan pujian, maka kita berkata dalam diri, “Mengapa bukan aku? Padahal dia itu kan . . .” Bahagiakah kehidupan yang demikian? Nah itulah sebabnya saya katakan iri hati seperti kanker yang perlahan-lahan merenggut kebahagiaan kita. Camkanlah Amsal 14:30 yang berkata, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Adakah kita sedang iri hati kepada orang-orang tertentu?

Iri hati adalah penghargaan terselubung kepada orang yang tidak kita sukai

A PRAYER FOR TODAY


Selidikilah aku, ya Allah,

dan kenallah hatiku,

ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

lihatlah, apakah jalanku serong,

dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!


(Mazmur Daud)

Monday, February 26, 2007

BAIK KALAU LAGI . . .?

Dian Sastrowardoyo selama ini dikenal sebagai artis yang moody. Kadang-kadang baik, namun tak jarang pemeran cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? itu terkesan tidak ramah. Bukan hanya kepada orang sekitar, tapi juga kepada wartawan yang kerap menjumpainya di berbagai kesempatan. Ditemui dalam jumpa pers acara Lux Play with Beauty di Hotel Four Seasons, Jakarta, beberapa waktu lalu, Dian mengakui hal itu. "Aku kalau lagi nggak merasa cantik, pasti nggak ramah sama orang. Tapi, kalau lagi merasa cantik, pasti ramah sekali. Sampai-sampai, orang yang nggak kenal pun aku sapa satu per satu," jelasnya. Ketika perasaan tidak cantik muncul, Dian merasa kehilangan kepercayaan diri. Mantan kekasih Abi Yapto itu pun memilih menjauh dari keramaian, lalu menyepi. "Kalau nggak pede, bawaannya pengin cepat pulang saja. Terus diam di rumah deh sendirian. Malas ketemu orang," akunya. Maka, Dian memohon pengertian atas sikapnya itu. Menurut dia, sikap moody tersebut merupakan spontanitas yang sulit dilawan. "Padahal, orang yang lihat belum tentu pandangannya sama dengan aku. Bisa jadi, ketika aku merasa cantik, orang lain melihat sebaliknya," tambahnya. (Kutipan dari Jawapos Online, Senin, 26 Februari 2007 di: http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=273271)
Apakah kita sebagai orang Kristen juga melakukan kebaikan kalau lagi mood? Kalau ya, coba pikir lagi, apakah kita berlaku baik karena kita baik, atau karena kita sedang merasa baik? Terus gimana tuh kalau Tuhan lagi bad mood dengan kita? Wah gawat kan. Ah kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi orang baik dalam keadaan apapun.

Sunday, February 25, 2007

TAHU TAPI TIDAK MAU TAHU

Daniel 5
“Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini” (Dan. 5:22)

Menurut Anda, apa artinya lampu kuning pada lampu lalu lintas? Tanpa banyak pikir, kita menjawab bahwa lampu kuning adalah tanda untuk berhati-hati. Berhati-hati untuk apa? Berhati-hati agar semua kendaraan segera menurunkan kecepatan karena lampu akan segera berubah menjadi merah. Tapi pada kenyataanya, apa yang kita lakukan ketika kita melihat lampu kuning? Apakah kita segera menurunkan kecepatan? Hmm . . . rasanya bukan ini yang kita lakukan. Atau, apakah kita injak gas sekencang-kencangnya agar secepat mungkin melewati lampu lalu lintas? Aha! Inilah yang sering kita lakukan, bukan? Intinya, kita tahu peraturannya, tapi kita tidak mau tahu; akhirnya, kita melanggar apa yang telah kita ketahui.

Hal yang sama juga dilakukan oleh raja Belsyazar, anak dari raja Nebukadnezar. Pernyataan Daniel kepada raja Belsyazar pada ayat 22 sangat pedas untuk didengar. Kenapa terasa sangat pedas? Ada satu hal penting yang terkandung dalam sebuah kalimat itu: Belsyazar dianggap sebagai raja yang tidak mau belajar dari sejarah kehidupan ayahnya, Nebukadnezar. Padahal, Belsyazar tahu bagaimana kehidupan ayahnya, ia tahu perjalanan kegagalan dan kesuksesan spritualitas ayahnya, dan kemungkinan ia tahu pengakuan akhir ayahnya di pasal yang keempat. Kegagalan Belsyazar untuk belajar dari sejarah kehidupan ayah inilah yang membuat dia jatuh dalam dosa kesombongan dan dia menjadi raja yang tidak disukai oleh Tuhan.

Tahu tapi tidak mau tahu, inilah pelajarannya untuk kita. Dalam hal melakukan firman Tuhan, kita bisa menjadi seperti Belsyazar. Apa maksudnya? Semenjak kita beribadah di gereja kita pasti sudah sering mendengar firman Tuhan. Artinya, kita sudah banyak mengetahui tentang apa yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita. Misalnya, kita tahu bahwa menebarkan gosip itu adalah perbuatan yang tidak berkenan bagi Tuhan, kita tahu bahwa sikap merendahkan seseorang (spt. pembantu, karyawan) adalah sikap yang tidak disukai Tuhan, dan seterusnya. Tapi apakah kita mau tahu dengan semua yang kita ketahui tadi? Belum tentu, bukan? Sebab itu, ketahuilah, berbahagialah orang yang bukan saja mendengar firman-Nya, tetapi juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikianlah, kita mau tahu dengan apa yang kita ketahui.

Janganlah kita menjadi seperti Farisi yang tahu banyak tapi tidak banyak yang dilakukannya

Saturday, February 24, 2007

A PRAYER FOR TODAY


Change my heart, o God

make it ever true.

Change my heart, o God

may I be like you

You are the potter,

I am the clay

mold me and make me

this is what I pray


(Eddy Espinosa)

PRASANGKA: PERCAYA ATAU TIDAK?

Daniel 4
“Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga . . .”
(Dan. 4:37)

Dalam satu wawancara, seorang penyanyi bernama Madonna ditanya, “Apa yang kamu lakukan bila kamu sedang tidak ada kesibukan?” Spontan saja Madonna berkata, “Aku membaca Alkitab.” Percayakah Anda akan perkataannya? Atau, bagaimana bila kita mendengar pengakuan Hitler bahwa dirinya sekarang adalah orang Kristen tulen? Percaya atau tidak? Kali ini kita akan merenungkan tentang prasangka. Apa sih prasangka itu? Menurut sebuah kamus bahasa Inggris, prasangka adalah perasaan tidak suka atau tidak percaya yang tidak masuk akal kepada seseorang yang berbeda dari kita, khususnya ras, jenis kelamin, agama, dan sebagainya.

Apakah prasangka itu juga terjadi ketika kita membaca kisah Nebukadnezar dalam pasal 4? Mungkin kita sudah mulai merasa heran sekaligus tidak percaya ketika membaca perkataannya di ayat 1-3. Kok bisa Nebukadnezar berkata sedemikian salehnya? Sebenarnya, kita tidak akan terlalu merasa heran bila kita menelusuri jejak perbuatannya secara teliti. Dalam pasal 2, Nebukadnezar terkesan tidak toleran karena ia akan membunuh seluruh orang bijaksana di negerinya tanpa alasan yang masuk akal. Tapi bukankah pasal ini diakhiri dengan pemujaan Nebukadnezar kepada Tuhannya Daniel? Sama halnya dengan pasal 3. Di sana ia kembali dikisahkan sebagai raja yang kejam karena usahanya untuk membunuh Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tapi bukankah pasal ini juga diakhir dengan pujiannya kepada Tuhan yang benar? Lantas mengapa kita sulit untuk menerima pertobatan Nebukadnezar dalam pasal keempat?

Kasus Nebukadnezar hanyalah salah satu alat penanda apakah kita memiliki prasangka dan seberapa jauh kita dikuasai oleh prasangka. Coba pikirkan berapa banyak prasangka yang kita miliki terhadap seseorang? “Ya memang orang Jawa itu malas dan tidak bisa kerja,” mungkin inilah salah satu prasangka yang diucapkan oleh orang Tionghoa tentang orang pribumi. Sebaliknya, orang pribumi pun mungkin berprasangka, “Ya memang orang Tionghoa itu sombong dan pelit.” Padahal, tidak semua orang Jawa dan orang Tionghoa memiliki sikap jelek seperti prasangka kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk melepaskan prasangka dalam pikiran kita satu demi satu.


Prasangka terhadap orang lain merupakan penindasan secara tersembunyi