Monday, April 27, 2009

Deteksi Dini, Pencegahan, dan Penyembuhan Gangguan Jiwa

[ Senin, 27 April 2009 ]
Jangan Pernah Remehkan Kekuatan Curhat

Makin tahun, makin banyak pasien gangguan jiwa di Jakarta. Untuk pencegahan dan penyembuhan, setiap rumah sakit di ibu kota menyampaikan berbagai macam pendekatan.

---

MENGALAMI gangguan jiwa atau tidak, ringan atau berat, yang pertama harus dilakukan seseorang adalah deteksi dini. Direktur Utama RS Soeharto Heerdjan Grogol Ratna Mardiati SpKJ mengatakan, instansinya memiliki metode khusus untuk mendeteksi gradasi gangguan jiwa.

Metode itu melalui tes psikiatri. Tekniknya, kepada seseorang diberikan kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sebenarnya amat sederhana. Dari jawaban-jawabannya, kita bisa mengetahui, apakah seseorang memiliki gangguan jiwa atau tidak.

Selain itu, kata Ratna, pihaknya membentuk grup-grup kesehatan jiwa untuk "jemput bola". Mereka mendatangi posyandu, pos pembinaan terpadu, bahkan ke rumah-rumah. Cara itu perlu dilakukan lantaran kesadaran masyarakat untuk datang ke rumah sakit masih sangat rendah.

"Kecuali mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan peduli akan kesehatan," tandasnya.

Surjo Dharmono, psikiater RSUP Cipto Mangunkusumo, membenarkan betapa pentingnya deteksi dini tersebut. Dia memberikan contoh program untuk penderita psikosis dini yang dikembangkan di Australia.

Caranya, dengan membuka tempat-tempat screening di pojok-pojok mal, sekolah, maupun tempat umum lainnya. Di tempat-tempat itulah, deteksi awal gangguan jiwa dilakukan.

Sayang, kata Surjo, Indonesia mungkin belum mampu menerapkan program seperti itu. ''Program itu memang cukup mahal. Apalagi penduduk Indonesia amat besar. Kondisinya berbeda dengan Australia,'' sebutnya.

Tentu, kalau tidak ingin memeriksakan diri, seseorang bisa mencoba untuk me-manage sendiri stres. Spesialis kedokteran jiwa dan konsultan dari RS Persahabatan Mardi Susanto mengatakan, kunci agar tidak stres amat mudah. Yaitu, mencapai titik keseimbangan (ekuilibrium). ''Sebisa-bisanya kita berupaya menyeimbangkan hubungan secara horizontal dan vertikal,'' ujarnya.

Mardi yakin setiap persoalan bisa diatasi. Dengan bekal keyakinan, seseorang bisa me-manage stres sejak dini. Selain itu, Mardi menyarankan agar kita terbiasa mengungkapkan setiap persoalan yang kita hadapi kepada orang terdekat.

''Curhat amat penting. Meski persoalan itu sepele, jangan diremehkan. Curhat bisa mengurangi beban yang kita hadapi,'' katanya. Apalagi hidup di kota sarat dengan berbagai persoalan hidup. ''Berbagilah dengan orang yang Anda percaya. Bisa keluarga atau teman,'' ungkap dokter yang hobi main tenis itu.

Nah, kalau ternyata memang mengalami gangguan jiwa, bagaimana penyembuhannya?

Dirut RSJ Soeharto Heerdjan Grogol Ratna Mardiati mengatakan, untuk penyembuhan pasien harus ada kombinasi antara pengobatan medis dan psikologis. Konsumsi obat-obatan hingga kini masih dibutuhkan untuk menolong pasien jiwa. ''Pengobatan itu jangan sampai terputus. Sebab, pasien bisa kambuh,'' ungkapnya.

Untuk pendekatan psikologis, Kepala Balitbang RS Soeharto Heerdjan Grogol dr Prianto SpKJ mengungkapkan, caranya adalah membangun kepercayaan terhadap pasien. Dokter harus memiliki empati kepada mereka. ''Tujuannya membangun kepercayaan terhadap pasien. Dengan begitu, pasien merasa yakin bahwa dirinya dapat sembuh,'' ujarnya.

Sepintas, kata dia, modal kepercayaan terdengar sepele. Namun, efeknya bagi pasien amat besar. ''Mereka merasa mendapatkan dukungan untuk sembuh,'' ucapnya.

Psikiater RSUP Cipto Mangunkusumo Dr Surjo Dharmono menambahkan, yang tidak kalah penting adalah dukungan psikososial. Sedapat-dapatnya pasien tidak dibiarkan menganggur. Mereka harus diberi kesibukan dan membaur dengan lingkungan sekitar.

Pasien neurosis (ringan) harus dimotivasi agar tidak meninggalkan rutinitas keseharian mereka. Bagi pasien psikotik (gangguan berat), harus diberikan pelatihan kerja.

Selama ini, kata Surjo, RSCM bersama Depsos memiliki program bengkel kerja. ''Tujuannya memunculkan kembali motivasi pasien,'' jelasnya. Dengan aktivitas yang jelas, diharapkan setahap demi setahap para pasien bisa kembali normal. (kit)

http://jawapos.co.id/

3 comments:

Little Angle~ said...

Dokter saudara saya mengalami gangguan jiwa berat (psikotik), latihan kerja seperti apa yang harus diberikan?
Tks sebelumnya.,

Ira

Andrew A. S. said...

Ira, sebelum memberikan latihan kerja, kita perlu membantunya untuk menemukan apa yang paling mudah dia lakukan atau apa yang paling sering dia lakukan (yang masih dalam kategori positif). Nah setelah kita menemukannya, coba berikan sedikit demi sedikit kepercayaan untuk mengembangkan kegiatan yang ditemukan tersebut. Kalau berhasil dikerjakan, jangan lupa berikan pujian secara tulus. Semoga berhasil.

Katherine Pard said...

dok, bisa minta contoh kuesioner nya ga??
thx before :)