Friday, May 30, 2008

MENGUKUR ABNORMALITAS

"Oh dia ma abnormal orangnya," demikian orang menyebutnya untuk seseorang yang dirasa "aneh" kelihatannya. Mungkin istilah abnormal sudah sering kita dengar. Namun apakah kita tahu apa yang dimaksud dengan perilaku abnormal? Kapan sebuah perilaku itu dikatakan normal dan kapan ia dikatakan sebagai abnormal? Bila seseorang yang sedang menghadapi wawancara kerja lalu dia merasa cemas, apakah ini merupakan perilaku yang normal? Ketika seseorang kehilangan kerja lalu merasa depresi, apakah ini merupakan perilaku yang normal?

Mungkin kita lazim mendengar bahwa garis batas antara perilaku normal dan abnormal sesungguhnya sangatlah tipis. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa setiap orang memiliki perilaku abnormal dalam hal-hal tertentu. Apakah benar demikian? Di sinilah kita perlu menyimak pendapat para ahli kesehatan jiwa dalam menentukan ukuran sebuah abnormalitas.

Menurut Jeffrey S. Nevid et al, Psikologi Abnormal, kriteria yang paling umum digunakan adalah: (1) Perilaku yang tidak biasa. Perilaku yang tidak biasa sering dikatakan abnormal. Contohnya, merasakan panik yang berlebihan ketika memasuki lift yang penuh sesak merupakan hal yang bisa dianggap sebagai abnormal. Atau, orang yang melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada dapat dikatakan abnormal bagi budaya yang tidak biasa dengan perilaku demikian.


2 comments:

Anonymous said...

Berarti jika semua orang merasa panik berlebihan jika memasuki lift, tetapi kita merasa tenang saja, maka kita yang abnormal?

Andrew A. S. said...

Itulah yang menjadi pertanyaan juga kepada kriteria itu. Tapi kalau kita melihat semua kriteria, maka sebenarnya kriteria yang Anda baca tadi hanya merupakan salah satu kriteria. Dan itu sah-sah saja. Nanti, ada kriteria yang berdasarkan buku standar psikiatris (DSM). Saya yakin semua kriteria ada plus minusnya.