Wednesday, May 07, 2008

JANGAN MENCURI

Keluaran 20: 15

Apa itu mencuri? Saya akan beri beberapa kasus lalu silakan Anda menilainya: (1) Bila kita pergi belanja ke Alfa lalu mengambil sebotol Shampoo Clear dan menyembunyikan di dalam kantong kita, maka apakah kita mencuri? (2) Bila kita pergi ke mall dan melihat ada selembar uang merah tak bertuan Rp. 100.000, lalu kita mengambil uang tersebut, apakah kita mencuri? (2) Bila kita di gereja melihat ada uang terjatuh dari kantung dari jemaat tertentu, lalu kita membiarkan uang tersebut, maka apakah kita mencuri?

Sebagai intermezzo, menurut berita Tempo Interaktif, 28 Maret 2008, tingkat kriminalitas di wilayah Surakarta, Jawa Tengah, kian meningkat. Bahkan, Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal F.X. Sunarno mengatakan wilayah Surakarta merupakan sentra kriminal kedua setelah ibu kota Jawa Tengah, Semarang. Berdasarkan data tiga bulan terakhir dari Polwil Surakarta, jumlah kasus pencurian motor mencapai 19 kasus, pencurian dengan pemberatan 20 kasus, pencurian dengan kekerasan 3 kasus . . .” Tepuk tangan buat kota Surakarta.

Jadi, apa itu mencuri? Saya kira semua orang mengerti artinya mencuri, bahkan orang yang tidak mengenal Alkitab pun juga mengerti apa artinya mencuri. Pada umumnya, mencuri diartikan sebagai tindakan mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa sepengetahuan si pemiliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ketiga tahun 2005, mencuri adalah mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bagaimana dengan pengertian Alkitab tentang mencuri itu sendiri? Alkitab sendiri tidak memberikan definisi secara eksplisit. Ketika kita melihat perintah “Jangan mencuri”, Alkitab tidak memberikan penjelasan apapun tentang hal itu. Tapi ada satu hal yang pasti, yaitu Alkitab seringkali mengulang-ulang perintah tersebut. Misalnya, Imamat 19: 11 dan Ulangan 5: 19. Dalam kesempatan lain, Tuhan justru membicarakan konsekuensi bila seseorang mencuri. Laknat Tuhan akan turun bila para pencuri dibiarkan leluasa melakukan kejahatannya. Menurut hukum Tuhan, bila pencuri-pencuri itu masih ingin hidup, maka mereka harus mengembalikan apa yang mereka ambil (Yeh. 33: 15). Berikutnya, Keluaran 22 menyebutkan bahwa bila seekor kambing atau sapi dicuri, maka pencurinya harus membayar kembali lima sapi dan empat kambing. Bagaimana kalau ia tidak mampu membayar? Maka, si pencuri itu harus dijual sampai hutangnya lunas. Amsal 6: 31 malah menyebutkan hukuman yang lebih berat, yaitu mengembalikan tujuh kali lipat. Dan bahkan, ada pencurian yang berujung pada hukuman mati. Intinya, sekali lagi, Alkitab sering mengulang-ulang perintah jangan mencuri. Tentunya, hal ini menandai betapa seriusnya Tuhan akan dosa yang satu ini.

Nah sekarang untuk memperjelas arti mencuri, mungkin kita perlu bagi pencurian menjadi dua golongan, yaitu: pencurian secara aktif dan pencurian secara pasif.

Pertama, pencurian secara aktif. Apa maksudnya? Pencurian secara aktif adalah tindakan mengambil hak milik orang lain tanpa sepengetahuan si pemilik tersebut. Apa saja contohnya?

· Secara materi

Kita mengambil makanan, pakaian, handphone, uang, dan barang-barang tertentu milik orang lain tanpa seizin si pemilik tersebut. Saya kira, bentuk-bentuk pencurian materi sangat mudah disebutkan.

Satu ketika ada seorang ibu yang sedang hamil tua di sebuah pusat perbelanjaan. Entah apa alasannya, dia mengambil sebotol sirup dan menyembunyikan di dalam roknya. Rupanya, botol tersebut dijepit dengan kedua pahanya. Ketika ia antri di loket kasir untuk membayar barang-barang yang ia beli, tiba-tiba secara tidak sengaja ada seseorang berlari dan menabrak ibu itu. Nah gara-gara tabrakan yang cukup keras, botol yang disembunyikan tersebut akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Botol itu pecah. Dan gara-gara itu, maka petugas memergoki aksi pencuriannya. Nah inilah contoh pencurian materi yang bersifat aktif. Tapi selain pencurian materi, ada pula pencurian non-materi. Aneh?

· Secara non-materi

Dalam praktik sehari-hari, saya kira praktik pencurian non-materi jauh lebih banyak dilakukan dan jauh lebih banyak tidak disadari ketimbang pencurian materi. Contohnya: (1) Mengambil waktu orang lain. Kalau pergi bekerja, kita datang terlambat tetapi pulang lebih cepat. Itu merupakan pencurian waktu kerja. Atau kita senang dengan yang namanya “jam karet”. Ini adalah pencurian waktu dan sekaligus bentuk hukuman yang sewenang-wenang. Kenapa demikian? Sebab yang dihukum adalah orang yang disiplin, tertib, tepat waktu. Sementara yang terlambat berkata, “Ah jangan khawatir, tenang aja, pasti ditunggu kok.”

(2) Mengambil reputasi/nama baik seseorang. Yang saya maksud di sini adalah kita sengaja mengancurkan nama baik seseorang. Kita menebarkan gosip tentang seseorang. Kalau ada orang lain yang sukses dan dipuji banyak orang, kita akan menggosip: “Ah orang-orang belum tahu siapa dia. Dulu dia itu bejat, papa mamanya cerai, dan seterusnya.” Sebaliknya, kalau ada orang yang gagal, maka kita akan menggosip: “Ya ampun, masak orang Kristen kayak gitu. Masak hamba Tuhan seperti itu.” Jadi, seakan-akan nilai kegagalan seseorang itu semakin berat dan tak terampunkan.

Pdt. Eka Darmaputera menyebut pengambilan reputasi/nama baik seseorang sebagai pembunuhan karakter. Caranya bukan dengan menikamkan senjata tajam atau meletuskan senjata api, tapi cukup dengan kata-kata. Menurutnya, mencuri nama baik adalah secara tidak sah mengambil sesuatu yang paling berharga dari orang lain. Tindakan ini membuat sesama kita kehilangan segala-galanya.

(3) Mengambil kekayaan intelektual/ide orang lain. Bila kita menyontek waktu ujian, itu merupakan pengambilan kekayaan intelektual orang lain. Bila kita berpendapat lalu kita berkata, “Oh itu pendapatku,” padahal itu merupakan pendapat orang lain, maka saat itu kita sedang mengambil kekayaan intelektual/ide orang lain. Kadangkala hal ini terjadi di dalam sebuah rapat. Kita berkata, “Aku mengusulkan atau aku berpikir” padahal itu merupakan usulan atau pikiran orang lain, maka itulah sebuah pencurian. Kalau memang itu bukan pikiran kita, maka ada baiknya kita berkata, “Aku terinspirasi dari si anu, gimana kalau kita melakukan ini; kalau menurut si anu, kita seharusnya melakukan itu.”

Kedua, pencurian secara pasif. Apa maksudnya? Bila pencurian secara aktif berarti tindakan mengambil hak milik seseorang, maka pencurian secara pasif berarti tindakan menahan apa yang seharusnya menjadi miliknya orang lain. Apa misalnya?

(1) Bila di gereja kita menemukan Alkitab, tas, dompet, atau HP milik seseorang yang kita kenal namun kita tidak mengembalikannya, maka itulah pencurian secara pasif. (2) Bila dalam transaksi terdapat uang kembalian yang lebih namun kita tidak mengembalikan, maka itulah pencurian secara pasif. Kita menahan apa yang seharusnya menjadi miliknya orang lain. (3) Bila kita berhutang pada seseorang dan tidak segera dibayar sesuai waktunya, maka itu berarti kita sedang menahan uang yang seharusnya menjadi milik orang lain. Itulah pencurian secara pasif. (4) Bila kita menunda waktu pemberian gaji karyawan, maka itulah pencurian secara pasif. Mungkin karyawan itu berkata tidak berkeberatan, tapi itu semestinya tidak boleh dijadikan alasan. Meski ia tidak berkeberatan, namun kita sedang menahan gaji yang seharusnya menjadi miliknya.

Seorang sarjana Perjanjian Baru, William Barclay, mengategorikan perintah ini sebagai titah dasar. Artinya, seperti halnya pada sebuah bangunan, bila dasarnya hancur maka ambruk pulalah seluruh strukturnya. Dan kemudian, Pdt. Eka Darmaputera menjelaskan bahwa, perintah “Jangan mencuri” adalah syarat mutlak terselenggaranya kehidupan bersama dalam masyarakat. Saya yakin Tuhan memberikan perintah ini dengan tujuan agar kita dapat hidup bersama orang lain tanpa perasaan curiga, takut, dan rasa tidak aman. Bayangkan saja bila dunia ini dipenuhi para pencuri? Mari, jangan mencuri!

3 comments:

Anonymous said...

Terima kasih atas informasi menarik

Cantik said...

Tapi mengapa tak boleh mencuri? Bukankah dosa kita sudah di tebus oleh tuhan?.

Cantik said...

Tapi mengapa tak boleh mencuri? Bukankah dosa kita sudah di tebus oleh tuhan?.