Tuesday, May 13, 2008

ISTIRAHATLAH!

Pelayanan di gereja, kadangkala, menjadi sumber stress bagi seorang hamba Tuhan. Tidak jarang saya mendengar keluhan mengenai hal ini dari hamba-hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan pernah bercerita tentang pelayanan gerejawinya di kota Manado. Katanya, "Menjadi hamba Tuhan di gereja itu harus siap bekerja dari hari Senin-Minggu." Hamba Tuhan ini menerangkan bahwa setiap harinya selalu saja ada yang diurusi sehingga para hamba Tuhan di sana hampir-hampir tidak pernah off bekerja. Lalu bagaimana dengan hari Senin, yang biasanya merupakan hari liburnya hamba Tuhan? Ia berkata, "Hari Senin memang hari libur. Tapi rasanya setiap hari Senin selalu saja ada yang dikerjakan."

Bila apa yang dikatakannya itu memang benar dan cukup universal, maka tidak heran bila stress terjadi justru karena pelayanan. Seorang hamba Tuhan jugalah seorang manusia biasa yang memerlukan istirahat. Seperti sebuah mesin, ia pun memerlukan istirahat sebagai waktu merawat diri. Bila setiap hari seorang hamba Tuhan terus dibombardir dengan pelayanan, maka kapankah waktu perawatan itu terjadi?

Ada beberapa mitos yang seringkali memengaruhi hamba Tuhan sehingga ia tidak mau beristirahat: (1) Istirahat berarti malas. (2) Istirahat berarti egois. (3) Kita harus bekerja "selama siang." (4) Selagi kuat, kita harus melayani Tuhan. (5) Atau seperti nyanyian berikut ini: Jangan lelah, bekerja di ladang-Nya Tuhan. Artinya, jangan pernah merasa atau mengeluh kelelahan dalam melayani Tuhan. Dan seterusnya.

Cukup menarik bila kita melihat kehidupan Yesus. Beberapa kali keempat Injil mencatat mengenai waktu-waktu istirahat Yesus. Bahkan, saya sering menjumpai Yesus beristirahat dalam waktu-waktu yang biasanya dianggap tidak tepat di kalangan kita. Contohnya: (1) Masih ingat peristiwa angin ribut yang hampir menjungkirbalikkan perahu para murid-Nya. Apa yang dilakukan Yesus waktu itu? Tidur alias istirahat. Saya heran pada-Nya. Di kala orang-orang sibuk mengeluarkan air dari perahu, Yesus bisa tidur. Di kala orang-orang berteriak kepanikan, Yesus bisa tidur dengan tenangnya. Di kala perahu bergoyang sangat kencang dan menakutkan banyak orang, Yesus masih bisa tidur. Mengapa sewaktu para murid sedang berteriak-teriak kepanikan dan sibuk luar biasa, Yesus masih tidur? Apakah Yesus egois? Apakah Yesus malas? Bukankah Yesus mestinya peka dan segera menolong mereka tanpa harus dibangunkan terlebih dahulu? Apa maksud semuanya ini? Saya yakin, Yesus sedang mengajarkan tentang pentingnya istirahat. Ada waktunya untuk beristirahat dan ada waktunya untuk bekerja.

(2) Satu lagi, masih ingat kisah Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyendiri. Waktu itu para murid menginformasikan pada Yesus bahwa banyak orang datang dan ingin berjumpa dengan-Nya. Banyak orang datang dan butuh pelayanan-Nya. Saya bayangkan bahwa di tengah hamparan orang banyak itu terdapat orang yang sakit, putus asa, mengalami masalah hidup yang berat, ingin mendengarkan pengajaran-Nya, dan seterusnya. Intinya, mereka datang dengan suatu kebutuhan. Tapi apa reaksi Yesus? Yesus justru mengajak para murid-Nya untuk menyendiri, menghindari kerumunan orang banyak. Aneh? Kalau Yesus menjadi hamba Tuhan di zaman sekarang, pastilah Ia akan dipecat dan dihujat. Orang banyak akan menuduhnya egois. Tapi saya melihatnya berbeda. Saya melihat, sekali lagi, di sinilah Yesus mengajarkan tentang ada waktunya untuk beristirahat dan ada waktunya untuk bekerja/melayani.

Apalah artinya bila kita melayani dengan hati yang lelah dan semangat yang padam bercampur stress? Seorang hamba Tuhan acapkali terjebak dalam pelayanan yang bersifat ritual belaka. Secara kasat mata, ia rajin membesuk, berkhotbah, memimpin P.A., memimpin persekutuan doa, dan seterusnya. Tapi siapa yang tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya? Tuhan menginginkan hamba-Nya melayani dengan hati yang senang dan sukarela. Itulah a living sacrifice. Selamat beristirahat!

5 comments:

Anonymous said...

Bagaimana dengan aktifis yang lebih tidak memiliki hari libur??

Andrew A. S. said...

Bila Anda setuju dengan perlunya istirahat, maka aktifis itu harus berani berkata "tidak" pada tawaran pelayanan. Bukankah kadang Yesus pun berani berkata "tidak" pada tawaran pelayanan? Tuhan memberkati.

Anonymous said...

Terus terang sebagai orang awam pelayanan digereja hanya bisa dilakukan bila diluar jam kerja, tetapi bila menerima sebuah pelayanan maka akan datang tawaran pelayanan berikutnya, dan sebagai orang yang ingin melayani kita berpikir bahwa pelayanan ini adalah anugerah Tuhan yang tidak sepantasnya kita tolak kalau kita memang sanggup melakukannya. Menurut Pak Andrew berapa jam dalam 1 minggu pelayanan dapat dilakukan secara sehat (diluar ibadah rutin yang ada)?

Andrew A. S. said...

Ketika Anda mengatakan bahwa "pelayanan ini adalah anugerah Tuhan yang tidak sepantasnya kita tolak kalau kita memang sanggup melakukannya", maka saya ingin menanyakan apa yang dimaksud dengan sanggup melakukan itu? Ada orang Kristen yang salah kaprah dengan kata sanggup tersebut. Adakalanya dia mengukur kesanggupan dengan dua dunia saja, yaitu dunia pelayanan dan dunia kerja. Selesai bekerja, bila ada waktu, maka langsung pergi ke gereja untuk melayani. Pertimbangannya mengenai kesanggupan hanya dilihat dari dua dunia saja. Padahal, ada banyak "dunia" yang kita hidupi. Dunia pernikahan, dunia hubungan ortu-anak, dunia diri sendiri (self-care), dan seterusnya, adalah contoh-contoh dunia yang perlu dipertimbangkan berkaitan dengan ukuran sanggup. Jadi, mari kita sama-sama evaluasi apakah kita sanggup untuk menyeimbangkan dunia-dunia yang kita hidupi. Bila sudah mulai tidak seimbang, segera cari waktu untuk beristirahat.
Lalu soal ukuran konkret untuk melakukan pelayanan, saya pribadi tidak bisa memberikan ukuran baku. Itu terlalu teknis dan Alkitab tidak memberi ukuran teknis itu. Sesuaikan saja dengan keseimbangan dunia-dunia yang dia hidupi. Kalau dia terlalu banyak pelayanan di gereja hingga menghancurkan keseimbangan hidupnya dan hidupnya orang terdekat, maka ia harus berani menyeleksi pelayanan mana yang dapat dilakukan.
Kita perlu ingat, yang Tuhan inginkan dari kita adalah a living sacrifice, bukan a burn-out sacrifice. Tuhan memberkati.

Anonymous said...

Sanggup melakukan berarti kita masih diberi nafas kehidupan, kesehatan, dan talenta oleh Tuhan. Mangatur waktu memang sulit untuk dilakukan apalagi jika menyangkut dengan orang lain ( pasangan hidup, anak, ortu, jemaat, hamba Tuhan, teman ). Kadang kita sudah menganggap bahwa waktu yang kita atur untuk semuanya itu sudah baik tetapi orang lain tetap menganggap bahwa waktu untuk mereka tetap kurang banyak. Jadi semakin kita terlibat pelayanan yang semakin dalam semakin sulit untuk menyeimbangkan dunia yang kita hidupi, karena waktu kita dalam satu hari tidak bisa kita tambah. sehingga saya berfikir bahwa melayani Tuhan, bukan hanya milik kita pribadi tetapi juga milik orang-orang disekitar kita. Kalau kita dengan tulus melayani, pasangan hidup, anak, ortu kita juga harus tulus untuk mendukung kita untuk melayani.