Friday, December 26, 2008

Dr dr Robert Arjuna FEAS, Pernah Dianggap Tukang Pijat

[Jum'at, 26 Desember 2008]

Dr dr Robert Arjuna FEAS berusaha betul menjaga sumpah profesinya saat dinyatakan lulus sebagai dokter. Dia rela mengabadikan keahlian dan waktunya untuk pasien tanpa membedakan kondisi sosial ekonomi.

Dilahirkan di Bagansiapisiapi, Riau, 16 September 1957, lewat kerja kerasnya, Robert bisa dibilang mantap dalam hal finansial. Sebuah rumah megah di kawasan elite Villa Bukit Emas menjadi peraduannya kini. Beberapa mobil pun bisa dipakai secara bergantian, siap mengantarkan ke mana pun dia pergi.

Banyak pasien Robert yang berasal dari kalangan berduit. Tapi, dia tidak pernah melupakan masyarakat tidak mampu yang ingin berobat kepadanya. Apalagi, sejak awal, dia bercita-cita menjadi dokter untuk membantu sesama. "Kali pertama, terbesit ingin menjadi dokter umur saya 12 tahun. Saat itu, saya melihat orang tertabrak sepeda. Dia meraung-raung kesakitan. Saya berpikir, seandainya saya bisa mengobatinya, tentu dia tidak akan merasa kesakitan seperti itu," ujar ayah empat anak tersebut.

Bagi Robert, bisa turun tangan langsung merawat keadaan pasien melewati masa krisis adalah sebuah kebanggaan tak ternilai. Karena itu, bukanlah hal baru melihat dia membersihkan sendiri kaki busuk seorang pasien diabetes melitus. "Misalnya, ada pasien yang kakinya sudah busuk dan divonis harus diamputasi, setelah kami rawat, ternyata membaik sehingga tidak sampai dipotong. Ini suatu kebanggaan," tutur pria yang juga menjadi drummer Arjuna Brother's Band itu.

Namun, misi mulia tersebut juga pernah menghasilkan pengalaman lucu. Saat itu, Robert datang ke rumah seorang pasiennya yang tidak mampu. Di sana, dia mencuci kaki si pasien. Pada waktu yang sama, salah satu rombongan jemaat gereja datang ke rumah itu untuk mendoakan pasien tersebut. "Eh, tiba-tiba dari rombongan tersebut ada yang menyeletuk ke saya. Katanya, tukang pijat dari mana," ujarnya mengenang lantas tersenyum.

Niat baik tak selalu berbuah baik pula. Kadang-kadang, kebaikannya itu sering disalahgunakan oleh pasien. Dia pernah ditipu oleh seorang pasien yang mengaku tidak mampu dan tidak bisa berjalan. Merasa kasihan, Robert menanyakan alamat guna mendatanginya. Ketika Robert datang, ternyata alamat rumah yang disebut kosong.

Dia pun bertanya ke tetangga si pasien yang mengatakan si pemilik rumah sedang berobat tradisional di suatu tempat. Dokter yang membuka praktik di Jl Raya Sutorejo Prima Indah itu lalu menunggu. Tak lama kemudian, pasien tersebut datang dengan rombongan yang membawa mobil.

"Ternyata, saya dibohongi. Dia bisa berjalan dan masih ada keluarga yang punya mobil," tandas pria yang juga dengan sukarela memberikan nomor handphone pribadinya kepada pasien agar bisa melayani konsultasi tanpa batas waktu tersebut. Pengalaman buruk semacam itu tak sedikit pun mengempiskan semangat Robert untuk terus berbagi kepada sesama. Khusus pasien kurang mampu, suami Ellen Sinatra itu berjanji untuk selalu berusaha menyisihkan porsi perhatian tersendiri.

"Semua yang saya lakukan ini bertujuan pada satu hal saja. Yakni, menolong orang lain selagi saya masih mampu melakukannya," ujar pria yang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 2002 itu. (dio/ayi)

http://jawapos.co.id/

6 comments:

Anonymous said...

really ?
how abt this story :

http://wirautama.net/email-curhat-ibu-prita-mulyasari/

SW says:
June 5, 2009 at 12:42 pm

salam kenal dari saya
menurut saya memang hrs adanya undang2 yg mengatur hak2 dan kewajiban sebagai pasien dari sebuah RS maupun seorang DOKTER karena kita sebagai pasien itu BAYAR bukan GRATIS jadi kita punya hak utk komplain kalo ada yang tidak benar dan bertanya dgn jelas masalah penyakit serta obat2an yang kita minum jika adanya side effect atau alergi. Karena di negara kita ini susahnya adalah yang punya uang akan selalu benar dan menjadikan mereka SOMBONG. Padahal tanpa adanya PASIEN dari manakah sebuah RS atau Dokter mendapatkan NAFKAH atau UANG atau PENDAPATAN! Dan mereka harus menyadari bahwa DUNIA INI selalu berputar dan adanya HUKUM KARMA, akan ada pada saat nya mereka yg sombong dan kaya menjadi jatuh miskin dan tidak laku sama sekali!

Pdhl menurut saya itu adalah sebuah masalah kecil dimana tinggal meluruskan saja dan tanggung jawab atas masalah ini.

saya ada satu cerita, seorang dokter bernama ROBERT ARJUNA ber praktik di Surabaya di jl. raya sutorejo, kadang di salah satu hotel di jakarta, adalah seorang dokter yang sangat sombong sekali kepada pasiennya, saking sombongnya pada saat dia praktik jika ada pasien dari pejabat dia akan memakai dasi, kalo tidak dia tidak akan memakai dasi. apakah kalo pejabat konsultasi dengan dia membayar dia dengan sebuah mobil, rumah ataukah berlian. apakah pasien biasa tidak membayar pada saat konsultasi dengannya sampai2 membedakan seperti itu? Dokter ini adalah ahli DIABETES atau terkenal dengan ahli KAKI BUSUK karena memang harus diakui dia seorang dokter yg memang jago dalam menyembuhkan diabetes sampai yg sudah komplikasi sekalipun bisa sembuh apalagi yg hanya pasien pemakai insulin maupun tidak. Bagaimana tidak sombong, dia menulis sebuah buku yg berjudul “KAMAR PRAKTIK” dan ayah diberikannya satu dgn tanda tangan dia seolah2 dia adalah seorang penulis terkenal, setelah saya baca ternyata isinya adalah semua hanya cerita yg membosankan yg “membicarakan dan ( maaf ) menjelek2an dan menggosipkan” pasien2 nya yg pada pengalamannya dia dalam praktik sebagai seorang dokter tanpa ada satu cerita pun yg menjelek2an dirinya sebagai seorang dokter. apakah dia seorang yg perfect tanpa ada salah ataupun dosa? apakah dia seorang TUHAN atau SANG PERFECT?!

Ortu saya berobat dengan dokter ini, memang diabetesnya menjadi lebih baik ( blm sembuh total karena baru 2x berobat dgn dktr ini ).
Pada suatu hari ayah saya membeli obat resep dari dktr tsb dan sudah dicari kemana2 tidak ada karena expiration date nya cepat sekali, sebut saja avandaryl 4mg/2mg sehingga tdk ada apotik manapun berani stock, yg ada adalah 4mg/1mg karena expiration datenya lebih lama menurut apotik2, maka kami tanya apakah sama ( karena kami bukan dokter maka kami tanya kepada yg ahli dan yg memberikan resep yaitu sang dokter TERSUCI dan TERHEBAT “menurut dia” ) setelah kami bertanya malah dia marah2 dia blg harus menuruti resep dia, jgn diganti2. kalo tidak ada jangan diam2 saja tapi cari terus padahal hampir separuh jkt kami cari obat tsb. kemudian dia tanya saya berapa hasil test gula darah ayah saya, dan saya blg agak tinggi, kemudian dia jwb dgn nada tinggi dan sombong “bagaimana tdk tinggi, ayah anda tdk menuruti kata2 saya disuruh minum avandaryl 4/2mg malah diminum 4/1mg, cape sekali saya mengurusi kalian” dalam hati saya, kapan saya pernah blg ayah saya minum 4/1mg avandaryl? padahal kami hanya tanya apakah 2 obt tsb sama karena sudah dicari kemana2 tdk ada yg 4/2mg. Kemudian saya jwb “bukannya minum 4/1mg dok tp hanya ty apakah kedua obt itu sama”

...

Anonymous said...

well.. liat kejadian ini emang miris.
tetapi dibalik saja. kalau bapak pernah liat dia praktek di jakarta dengan pasien segitu banyak dan di lembur satu hari, maka orang super pun bisa jd stress. apa lagi dia orang biasa.
menghadapi orang dengan bermacam tabiat dan sifat tidaklah mudah. jadi ambil positif dari kejadian tersebut.
untuk dokter arjuna, saya akui dia punya teori bagus dan bisa dibilang sakti untuk penyakit diabetes. tetapi kenapa dia tidak mau menulis buku mengenai teori apa yang dia sampaikan waktu kita konsultasi ber 4 sekaligus? jika semua orang udah tau mindset dia, maka dia akan bisa sedikit meluangkan waktu untuk meresearch dan mencari obat pengganti yang tersedia luas di pasaran.
untuk yang satu ini menurut gw, IT'S ALL ABOUT BUSINESS. menurut saya begitulah cara yang bagus untuk share knowledge.

linda said...

memang kebanyakan orang menganggap bahwa dokter Robert Arjuna adalah dokter yang arogan, suka membentak, dan sederetan istilah yang lain, tetapi menurut saya, berdasarkan pengalaman saya selama 5 bulan mendampingi mama saya berobat,beliau menang kerap kali memarahi pasien di depan saya di ruang perawatan karena ada pasien juga yang lalai minum obat, suntik insuli tidak teratur, semua tertuang pada hasil lab yang dilakukan di pagi hari nya... saya menangkap maksud dari dokter ini dari sudut pandang yang mungkin berbeda dengan teman - teman disini, saya menganggapnya sebagai seorang dokter yang sayang kepada pasien nya, care untuk obat-obat yang diminum...mungkin setiap dokter mempunyai cara nya sendiri-sendiri dalam menyampaikan ke pasien...dan pada akhirnya, mama saya yang berobat di klinik dokter robert, kaki busuk nya sembuh dan sekarang sudah normal semua karena kita ikuti saran dokter....

pesan untuk teman-teman yang sudah dan akan berobat :
kalo dokternya lagi ngomel2 ato marah2...diemin aja...ga usah dipikir dan di masukkan hati... kalo kita nganggep dan di masukin hati, jadi ngga enak sendiri, jengkel2 sendiri....

sri rahayu said...

Bisa minta alamat lengkapnya / no telp kliniknya sy mau memmeriksakan bpk sy. Trimakasih

sri rahayu said...

Bisa minta alamat lengkapnya / no telp kliniknya sy mau memmeriksakan bpk sy. Trimakasih

Anonymous said...

Hehe saya sendiri mengalami dan sempat was was karena tulisan dokter sombong, kenyataannya TIDAK BENAR
Tulisannya tidak bertanggungjawab, mengedepankan sekelumit hal kecil dibanding hal besar yg sudah dialaminya yaitu ada progress kesembuhan