Monday, October 27, 2008

KECIL TAPI BERARTI

Yohanes 6: 8-9

“Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu,” kata si gadis kecil sambil menangis sesenggukan. Gadis kecil ini menangis karena tidak diperbolehkan masuk ke gereja kecil. Apa alasannya? Alasannya karena gereja itu sudah terlalu penuh. Tak lama kemudian seorang pastor lewat di dekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis. Setelah mendengarkan penjelasannya, sang pastor menuntun gadis kecil masuk ke ruangan Sekolah Minggu dan berusaha mencarikan tempat duduk yang masih kosong.

Malam sebelum tidur gadis kecil ini terus merenungkan peristiwa yang tadi terjadi. Ia memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya yang tidak memiliki tempat untuk beribadah. Hari demi hari ia terus memikirkan bagaimana caranya memperluas tempat Sekolah Minggu sehingga semua anak bisa tertampung. Oleh karena orangtuanya bukan orang berada, maka ia hanya bisa melakukan semampunya. Ia menabung sedikit demi sedikit.

Dua tahun kemudian, entah mengapa, si gadis kecil ini meninggal di rumahnya yang kumuh. Kedua orangtuanya segera meminta bantuan dari pastor gereja yang pernah menolong gadisnya untuk mengadakan kebaktian pemakaman.

Dalam beberapa hari kemudian, saat ruang tidur si gadis dirapikan, tiba-tiba ditemukan sebuah dompet usang, kumal, dan sobek-sobek. Mungkin dompet itu ditemukan dari tempat sampah. Di dalamnya terdapat uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan sang gadis kecil. Bunyinya demikian: “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja agar gereja bisa diperluas sehingga lebih banyak anak-anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu.” Selama dua tahun si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uangnya sampai terkumpul 57 sen.

Ketika sang pastor membaca catatan kecil tersebut, matanya mengeluarkan air mata. Ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet kumal, sang pastor segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan misi mulia si gadis kecil.

Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan uang dan mengajak orang-orang yang lain untuk menyumbangkan uangnya. Bagaikan bola salju yang terus bergulir, makin lama makin membesar, dari 57 sen sekarang menjadi 250.000 dolar. Suatu jumlah yang sangat besar di mana waktu itu dengan jumlah uang sekian dapat membeli emas seberat 1 ton.

Jika kita berada di Philadelphia, Amerika Serikat, lihatlah Temple Baptist Church dengan kapasitas tempat duduk untuk 3300 orang. Tidak lupa pula, di sana terdapat bangunan khusus untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan ratusan pengajarnya. Semuanya itu untuk memastikan agar jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah Minggu. Dan di dalam salah satu ruangan bangunan khusus itu, tampak terlihat foto si gadis kecil itu.

Inilah kisah yang menggugah hati. Kisah 57 sen yang telah mengukir sejarah.

Kisah nyata tadi mengingatkan saya pada peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang. Waktu itu banyak orang mengikut Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan sekaligus melihat mukjizat-mukjizat. Lalu Yesus memandang mereka dan mengerti kebutuhan mereka, yaitu kebutuhan perut. Mereka kelaparan dan membutuhkan makanan saat itu juga. Ketika murid-murid berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan makanan, tiba-tiba Andreas, salah satu murid Yesus, berkata, “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Perhatikan perkataan Andreas ketika melihat jumlah roti dan ikan. Inilah yang sering dilakukan kebanyakan orang hari ini. Masyarakat terlalu sering memberi arti terhadap sesuatu atau seseorang dari segi jumlahnya. Berapa banyak yang ia lakukan? Berapa banyak yang ia miliki? Kalau jumlahnya banyak, maka masyarakat baru memandang kita. Kalau jumlah yang kita bisa lakukan atau miliki itu sedikit, maka mereka akan membuang kita. Sama seperti Andreas, mereka akan berkata, “Apakah artinya itu?”

Tapi Tuhan memandang lain. Tuhan tahu bahwa jumlah roti dan ikan yang sedikit itu tetap berarti ketika semuanya itu diserahkan ke dalam tangan Tuhan. Anak kecil tadi hanya memiliki 5 roti dan 2 ikan. Jumlah yang sangat sedikit. Jumlah yang katanya Andreas itu tidak berarti. Tapi ia berikan ke dalam tangan Tuhan. Dan hasilnya sangat menakjubkan. Manusia tidak pernah menduga bahwa apa yang tak berarti itu diubah menjadi hal yang berarti ketika berada di dalam tangan Tuhan.

Satu hal yang kita pelajari: Jangan meremehkan sumbangsih seseorang, sekecil apapun itu. Tidak jarang kita meniru masyarakat yang menghargai seseorang dari seberapa besar jumlah yang ia lakukan atau ia miliki. Akhirnya, kita lebih cenderung memerhatikan orang-orang yang tampak mata memberikan sumbangsih besar, kita lebih cenderung bergaul dengan orang-orang seperti demikian, kita anggap orang-orang seperti itu sangat berarti bagi gereja atau kehidupan pribadi kita.

Sekecil apapun sumbangsih seseorang, bagi Tuhan hal itu tetap berarti. Kita perlu menghargainya. Kita perlu mengakui bahwa tindakannya itu berarti. Coba berikan apresiasi atau penghargaan kepada orang-orang yang melakukan hal-hal kecil. Misalnya, jemaat yang membagikan snack setelah Kebaktian Umum, jemaat yang mengundang orang-orang untuk memakan makanan ramah tamah, jemaat yang merapikan Alkitab dan buku nyanyian, jemaat yang meringkaskan buku-buku nyanyian setelah kebaktian kedukaan, jemaat/pekerja yang mengatur pengeras suara untuk pengkhotbah atau para pemuji, dan seterusnya. Hampir dapat dipastikan orang-orang seperti ini lebih minim menerima penghargaan, ketimbang orang-orang yang memberikan sumbangsih besar di mata orang banyak. Mau bukti? Ketika ada seorang jemaat menyumbang dana yang besar, maka gereja segera melayangkan surat terima kasih kepada jemaat itu, plus hamba Tuhan juga menjabat tangannya erat-erat sebagai tanda terima kasihnya. Tapi bagaimana nasibnya jemaat yang seringkali merapikan buku nyanyian, atau yang menawarkan makanan ramah tamah kepada para jemaat? Wes hewes hewes bablas angine . . . kita lupa menghargainya.

Ingatlah, 57 sen dan 5 roti 2 ikan tidak pernah terlalu kecil buat Tuhan. Sekecil apapun sumbangsih seseorang bagi Tuhan, hal itu tetaplah berarti. Kalau Tuhan saja menghargainya, masakan kita tidak menghargainya pula?

1 comment:

Hasan Winata said...

good true story, very impressed and we can learn much from it. Tx. GBU. Hasan