Sunday, August 17, 2008

SUSU DAN SEPOTONG ROTI

Di suatu malam yang pekat, seorang pemuda sedang berlari-lari di tengah hujan badai. Ia berusaha menemukan sebuah tempat berteduh. Setelah berlari-lari dengan tubuh yang basah kuyup, ia menemukan teras sebuah rumah sederhana. Di sana ia mencoba meletakkan tubuhnya, melepaskan lelah. Tapi rupanya, pemuda itu juga sedang kehabisan bekal makanan. Ia menggigil kedinginan sekaligus menahan rasa lapar yang luar biasa, hingga kepalanya berkunang-kunang.

Tak lama berselang, datang seorang perempuan setengah baya yang ternyata adalah pemilik rumah tersebut. Melihat kedatangan ibu tersebut, sang pemuda itu segera bangkit dan memohon izin dengan sopan, "Maaf Bu . . . saya hanya ingin menumpang untuk berteduh di sini. Mohon ibu tidak merasa terganggu dan mengizinkan saya berteduh sejenak."

Sambil menganggukan kepala, perempuan itu bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa semangkuk susu hangat dan sepotong roti. "Nak, ini ada sepotong roti dan semangkuk susu hangat untuk menghangatkan badanmu. Maaf, hanya ini yang ibu punya," kata perempuan setengah baya itu.

Tanpa berpikir panjang, pemuda itu menerima pemberiannya dengan tangan gemetaran bercampur dengan suara dan tangan gemetaran. Oleh karena kedinginan dan kelaparan, maka dengan lahap dan cepat ia menghabiskan roti beserta susu hangat itu.

Tahun berganti tahun. Dikisahkan, suatu hari di sebuah rumah pengobatan yang besar dan terkenal, tengah berlangsung kesibukan yang luar biasa. Beberapa orang sedang memandu seorang perempuan tua dalam keadaan pingsan. Kondisinya kritis akibat penyakit menahunnya. Untuk menyelamatkan nyawanya, kepala tabib memutuskan untuk mengambil tindakan operasi.

Beberapa hari setelah menjalani operasi, perempuan tua itu tampak sangat gelisah. Ternyata yang membuatnya gelisah adalah pikiran yang tertuju pada biaya pengobatan dan perawatan yang dirasa sangat mahal baginya. "Darimana aku bisa membayarnya?" gumam perempuan tua itu. Akhirnya, mau tidak mau, ia memberanikan diri menanyakan besarnya biaya kepada si perawat. Tak lama setelah itu, seorang perawat mendatanginya dengan membawa sepucuk surat. Dengan perasaan gelisah, surat itu diterima dan dibukanya. Ia pun segera membacanya.

"Ibu yang baik. Perkenalkan, saya adalah kepala tabib yang mengoperasi dan merawat ibu. Seluruh biaya pengobatan telah saya lunasi. Ini sebagai tanda terima kasih saya atas pemberian semangkuk susu dan sepotong roti yang pernah ibu berikan dahulu. Saya adalah si pemuda kelaparan yang dulu pernah berteduh di teras rumah ibu. Semoga Tuhan memberi kesehatan dan umur panjang kepada ibu. Salam sejahtera."

Selesai membaca surat itu, meneteslah air matanya, haru bercampur lega. Perempuan tua itu tidak pernah menyangka, bahwa perbuatan kecil tanpa pamrih yang dilakukannya di masa lalu, ternyata membuahkan kebaikan yang tidak terkira di kemudian hari. Bukan hanya jiwanya terselamatkan, tetapi seluruh biaya pengobatannya pun lunas, tanpa ia harus mengeluarkan uang sepeser pun. (Disarikan dari Andrie Wongso, 16 Wisdom & Success: Classical Motivation Stories 2, 43-45)

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas? Silakan mengunyah pelajarannya dari kisah susu dan sepotong roti tadi.

No comments: