Wednesday, December 03, 2008

Perilaku Agresi Ternyata Menular

Rabu, 26 November 2008 | 22:56 WIB

SETIAP HARI, media elektronika maupun cetak kerap memberitakan berbagai kisah tentang pembunuhan, penganiayaan dan penyiksaan. Kondisi korban yang diberitakan pun bervariasi. Ada yang meninggal dengan tubuh terpotong-potong, anggota tubuh yang hilang, dan cacat seumur hidup.

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku agresif yang terjadi saat ini menunjukan adanya peningkatan kualitas, tak hanya sekedar menyakiti atau melukai tetapi juga menghilangkan nyawa korbannya. Sebab-sebab kejadianya pun kadang-kadang sangat sepele. Misal, gara-gara minta rokok tidak diberi seorang pemuda tega menganiaya temannya sampai meninggal.

Ryan seorang yang dituduh sebagai ‘Jagal manusia ‘ dari Jombang, kalau selintas kita simak, juga melakukan berbagai hal karena masalah yang sepele. Dia sampai tega dan berani membunuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya meski diselipi rasa cemburu berlebihan.

Kasus lainnya, berbagai tawuran antar pelajar atau mahasiswa yang sering kita lihat di TV yang bila disimak penyebabnya sangat sepele hingga seharusnya tidak pantas kalau sampai dibela dan mengorbankan nyawa sampai mati. Cerita lain menyebut, seorang remaja laki-laki yang cenderung melakukan tindak kekerasan seperti berkelahi karena takut dikatakan banci oleh teman-temannya. Ironisnya, hal ini banyak dilakukan meskipun secara normatif perilaku semacam itu tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang disebut pelajar atau mahasiswa.

Banyak teori agresi yang mengatakan sebab utama yang menyebabkan munculnya perilaku agresi adalah frustrasi (Hanurawan,2005). Dijelaskan di sini, perilaku agresif muncul karena terhalangnya seseorang dalam mencapai tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu.

Watson, Kulik dan Brown ( dalam Soedardjo dan Helmi,1998) lebih jauh menyatakan bahwa frustrasi yang muncul disebabkan adanya faktor dari luar yang begitu kuat menekan sehingga muncul perilaku agresi. Bandura (dalam Baron dan Byrne. 1994) menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial melalui pengamatan terhadap dunia sosial.

Dari beberapa pandangan teoritik tersebut, dapat dikatakan misalnya bahwa perilaku agresif yang dituduhkan pada Ryan dapat disebabkan oleh frustasinya yang mendalam sebagai akibat kegagalannya dalam dunia kerja. Frustasinya menjadi semakin menekan karena dia sudah masuk dalam perangkap kehidupan teman-temanya yang serba ada dan berkecukupan. Suasana kompetitif dalam masyarakat pun sangat kuat sehingga bagi mereka yang tidak siap akan mengalami stres berat yang lama kelamaan akan menjadi frustasi.

Di samping itu, faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah peran media, entah cetak maupun elektronika yang juga sering menyajikan berita mengenai perilaku agresif ini. Belum lagi acara telivisi yang menyuguhkan adegan kekerasan seperti Smack Down, UFC atau sejenisnya. Tayangan ini akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan inidvidu yang melihatnya, terlebih mereka yang berusia muda, meniru model kekerasan seperti itu.

Situasi yang setiap hari menampilkan kekerasan yang beraneka ragam sedikit demi sedikit akan memberikan penguatan bahwa hal itu merupakan hal yang menyenangkan atau hal yang biasa dilakukan ( Davidof,1991). Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadilah proses belajar dari model yang melakukan kekerasan sehingga akan memunculkan perilaku agresi. Bila perilaku seseorang membuat orang lain marah dan kemarahan itu mempunyai intensitas yang tinggi, maka hal itu merupakan bibit munculnya tidak hanya perilaku agresi pada dirinya namun juga perilaku agresi orang lain.

Ada penularan perilaku ( Fisher dalam Sarlito,1992 ) yang disebabkan seringnya seseorang melihat tayangan perilaku agresi melalui televisi atau membaca surat kabar yang memuat hasil perilaku agresi, seperti pembunuhan, tawuran masal, dan penganiayaan.

Oleh karenanya, secara internal kita semestinya menjaga diri kita sendiri agar tidak melakukan periku agresif yang membahayakan. Yang pertama adalah melatih ketrampilan emosi sehingga mampu menerima tanpa frustasi terhalangnya beberapa tujuan yang kita inginkan dalam hidup kita. Selain itu, karena melihat perilaku agresi bisa membuat kita juga agresif, kita perlu menyeleksi apa yang akan kita tonton dan yang akan kita rekam dalam memori kita.

Drs. Hadrianus Wahyudi, M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

(Diambil dari: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/26/22565170/perilaku.agresi.ternyata.menular)

Anak Muda Pacaran, Hanya Lihat Sisi Senangnya Saja

Sabtu, 29 November 2008 | 22:03 WIB

SEMARANG, SABTU - Seorang psikolog dari Semarang menyatakan, rata-rata anak muda di Indonesia dalam berpacaran hanya melihat sisi kesenangannya saja, dan tidak melihat sisi lainnya.

"Di kalangan anak muda, rata-rata mereka berpacaran sering tidak melihat sisi lainnya, yang dilihat hanya kesenangan semata. Selain itu banyak anak muda ketika berpacaran sering termakan oleh kata cinta, padahal pacaran yang sehat itu tidak hanya berdasar pada cinta semata," kata dr. Hastaning Sakti, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Semarang, Sabtu.

Hasta, begitu panggilan akrabnya, mengatakan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Road Show Diponegoro Care Centre (DCC) di kampus Psikologi Undip. Pada kesempatan ini ia juga mengeluhkan dalam berpacaran anak muda saat ini sering menjurus pada hubungan seks di luar nikah yang berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan.

Selain itu, ia menambahkan, sebaiknya anak muda harus melihat dampak buruknya akibat melakukan hubungan seks bebas, seperti terjangkit HIV/AIDS, kehamilan, keguguran, dan dampak psikologi lainnya. "Jadi, kalau menilai pacar jangan hanya dari sisi baiknya saja, harus dilihat dari semua sisi, termasuk jangan melakukan hubungan hubungan seks di luar nikah," katanya mengingatkan.

"Saat ini banyak sekali kasus aborsi karena hamil di luar nikah. Hal ini, disebabkan karena hubungan pacaran yang tidak sehat," demikian Hasta. Road show yang diselenggarakan DCC ini juga mengangkat masalah kesehatan reproduksi serta kekerasan dalam pacaran.

Menurut Nuno, ketua panitia acara, kegiatan ini mengangkat masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kalangan remaja seperti aborsi, kekerasan dalam pacaran, dan kehamilan yang tidak diinginkan, serta narkoba.

"Sebenarnya acara-acara sejenis sudah banyak diselenggarakan baik di sekolah, kampus, maupun masyarakat, tapi kami optimis acara ini akan berpengaruh besar bagi pesertanya karena dalam acara ini peserta diajak diskusi dan tukar pendapat," katanya.

Acara DCC di Fakultas Psikologi ini adalah putaran pertama dari keseluruhan acara yang rencananya juga diadakan di semua fakultas di Universitas Diponegoro. "Kami rencananya akan menggelar road show di semua fakultas di Undip, untuk kegiatan di luar bulan-bulan kemarin kami sudah mengadakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, dan Jawa Barat," kata Nuno.

Banyaknya Mutilasi Jangan Salahkan Televisi

Senin, 1 Desember 2008 | 22:10 WIB

SEMARANG, SENIN - Banyaknya kasus pembunuhan dan mutilasi yang terjadi di Indonesia belakangan ini, tidak hanya disebabkan maraknya tayangan kriminal di televisi tetapi juga disebabkan oleh faktor pribadi, lingkungan masyarakat dan ekonomi, kata psikolog Undip Semarang, Hastaning Sakti.

"Menanggapi banyaknya kasus pembunuhan dan mutilasi yang akhir-akhir ini sering terjadi, sebaiknya masyarakat jangan menyalahkan televisi, banyak faktor lain yang sebenarnya juga menjadi pemicu terjadinya hal itu," katanya di Semarang, Senin.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab seseorang melakukan pembunuhan juga mutilasi adalah kesalahan pola pikir, ekonomi, lingkungan sosial, dan keluarga.

Ia menjelaskan, rata-rata orang Indonesia tidak bisa mengatur tingkat emosional mereka, sehingga jalan keluar yang diambil ketika menghadapi masalah sering kali jauh dari kebiasaan orang normal.

Tingkat pendidikan yang rendah, menurut dia, sebagai salah satu faktor penyebab orang melakukan tindak kejahatan."Bisa kita lihat, rata-rata pelaku kejahatan, pembunuhan dan mutilasi pada kasus belakangan ini, dilakukan oleh orang yang tingkat pendidikannya rendah," kata dosen Fakultas Psikologi Undip ini.

Kasus mutilasi akhir-akhir ini banyak ditemukan di beberapa kota di Indonesia, seperti aksi yang dilakukan Ryan di Jakarta, penemuan potongan tubuh manusia di bus Mayasari Jakarta dan terakhir di kawasan wisata Kopeng Kabupaten Semarang.

Disinggung masalah televisi sebagai penyebab maraknya kasus pembunuhan dan mutilasi, ia mengatakan, televisi itu sebenarnya sangat penting untuk pengetahuan dan pendidikan, hanya saja masyarakat belum siap menerima itu, sehingga baik atau buruk apapun yang ada di televisi cenderung akan dicontoh.

Psikolog dari Universitas Katolik Soegiyopranoto, Kristiana Haryanti juga menyatakan hal serupa, banyak faktor lain yang mempengaruhi seseorang melakukan tindakan pembunuhan seperti faktor pribadi, tekanan lingkungan, dan pendidikan.

Ia mengatakan tiap orang mempunyai tingkat ambang stres yang berbeda. "Itu yang menyebabkan jenis penyelesaian tiap orang berbeda ketika menghadapi suatu masalah," katanya.

"Orang yang mempunyai masalah yang sama belum tentu sama dalam hal menyelesaikannya karena tingkat ambang stres tiap orang berbeda," katanya.

Ia mencontohkan, bila ada dua orang yang mengalami putus cinta, satu orang mungkin akan bunuh diri, dan orang lainnya mungkin akan bersikap acuh tak acuh dan segera mencari penggantinya.

Faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat ambang stres, menurut Kristiana, adalah kepribadian dan lingkungan. "Faktor kepribadian dan lingkungan adalah hal yang membuat ketangguhan seseorang yang mengalami masalah menjadi berbeda," katanya.

Ia menilai saat ini memang televisi banyak menayangkan hal-hal yang negatif, tetapi perlu ada seleksi yang lebih ketat terhadap tayangan negatif oleh instansi terkait.

(Diambil dari: http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/01/22105621/banyaknya.mutilasi.jangan.salahkan.televisi)

MARGONO, PAK DOSEN YANG TAK LELAH BELAJAR

Rabu, 03 Desember 2008

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Pepatah itu menjadi prinsip hidup Margono ketika memutuskan melanjutkan program S-2 dan S3-nya. Pria kelahiran Surabaya, 12 Agustus 1942 tersebut baru kembali merasakan bangku kuliah pada usia 58 tahun.

Pada 2000, bapak dua anak itu meneruskan S-2 di bidang tangki berpengaduk di Fakultas Teknik Kimia ITS Surabaya. Sekarang, sosok yang sejak tahun lalu pensiun sebagai pegawai negeri Ssipil itu menyelesaikan program doktor.

Dia berharap pada pertengahan 2009 gelar tersebut telah disandangnya. Pria berkacamata itu sekarang memasuki tahap disertasi. Judulnya Pengaruh dari Beberapa Bentuk dan Ukuran Partikel Padat pada Perpindahan Masa dan Panas di Dalam Rotary Dryer.

"Sekolah atau belajar tidak memandang umur. Jadi, bagi saya tidak ada kata terlambat dalam belajar," katanya saat ditemui di rumahnya di kompleks Perumahan Dosen ITS.

Meski usia tidak muda lagi, semangat dan motivasi Margono untuk belajar tidak perlu diragukan. Dia merasa tidak terbebani dengan kegiatan perkuliahan yang sarat dengan tugas-tugas membuat makalah di sela tugasnya sebagai dosen Fakultas Teknik Kimia ITS. "Saya merasa menikmati, sebab sekolah dan belajar termasuk hobi saya," tuturnya.

Bahkan, untuk melanjutkan kuliah S-3, dia harus merogoh kocek pribadi alias membayar sendiri. Ini berbeda ketika mengambil program master, karena Margono mendapatkan beasiswa. Sebenarnya, kakek dua cucu itu ingin langsung meneruskan program doktor begitu lulus S-2 pada 2002. Namun, saat itu dia belum mendapatkan kesempatan. "Sulit mendapatkan beasiswa. Mungkin mengingat usia saya yang sudah mendekati pensiun. Tapi, bersyukur Tuhan masih bisa memberi rahmat untuk sekolah sendiri," terangnya.

Cita-cita Margono tidak hanya berhenti di S-3. Pria bersahaja tersebut masih berharap dapat menyandang gelar tertinggi di dunia pendidikan, yakni profesor. Meski, nanti tidak menjadi guru besar ITS, karena posisinya sudah pensiun. "Kalau ada kesempatan, saya berusaha meraihnya. Tapi, jalannya dari universitas swasta atau Kopertis. Namun, saya tidak berambisi besar mendapatkan gelar guru besar. Apa yang saya raih saat ini lebih dari cukup," ucapnya.

Dia menambahkan, kegiatan belajarnya ini dapat menjadi motivasi mereka yang masih muda guna menimba ilmu. Terutama, mereka yang telah bekerja agar tidak segan menuntut ilmu. "Setelah lulus S-1, kemudian bekerja, kita malas sekolah. Padahal, di luar negeri sudah menjadi kebiasaan untuk melanjutkan program lebih tinggi, meski telah bekerja," ujarnya.

Kebiasaan belajar Margono sebenarnya mudah ditebak saat memasuki rumahnya. Begitu berada di ruang tamu, terasa benar aroma "orang yang senang belajar". Di ruangan yang hanya 4 x 3 meter itu tidak ada hiasan mencolok. Hanya seperangkat kursi dan meja sederhana. Di tembok terdapat foto keluarga saat salah seorang anaknya menikah.

Namun, di ruang tamu itu terdapat sebuah lemari yang menyimpan buku. Margono menyebut ada dua macam buku yang dikoleksinya. Yakni, buku tentang teknik kimia dan buku-buku teologi. "Di dalam (ruang keluarga) masih ada satu lemari. Lebih dari 200 buku yang saya miliki," ujar jemaat GKI Pregolan Bunder itu.

Di antara koleksi buku-buku agama, Margono memiliki Kitab Injil berbahasa Yunani dan Ibrani yang telah disadur dalam bahasa Inggris. Dia mengaku selama ini merasa belum puas dengan kitab-kitab dalam bahasa Indonesia. "Jika membaca dalam bahasa Yunani dan Ibrani, kita makin mendalami arti-arti dalam ayat-ayat Injil," tandas pria yang bisa membaca tulisan Yunani itu. (dio/ayi)

(Diambil dari: http://www.jawapos.co.id/)

Monday, December 01, 2008

Aulia Jadi Ujian Terbesar SBY

Senin, 1 Desember 2008 | 05:56 WIB

JAKARTA, SENIN - Kasus korupsi terkait aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Bank Indonesia, yang membelit Aulia T Pohan, menjadi ujian terbesar bagi integritas dan sikap kenegarawanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yudhoyono harus membuktikan kampanye dan program antikorupsinya.

Oleh karena itu, Yudhoyono perlu mengendalikan sikap menantu dan putranya untuk menghormati prosedur hukum yang berlaku dalam konteks kunjungan ke rumah tahanan (rutan).

”Tak boleh ada pelayanan khusus yang mencederai rasa keadilan publik. Ini seperti hal kecil, tetapi tidak kecil di mata publik,” kata Ketua Departemen Politik Pertahanan dan Keamanan Partai Keadilan Sejahtera Al Muzzammil Yusuf di Jakarta, Minggu (30/11). Yudhoyono perlu mendorong aparat kepolisian, kejaksaan, hakim, dan petugas rutan untuk bertindak profesional.

”Jika Yudhoyono sukses dalam hal ini, maka ini bisa menjadi satu tonggak dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Budaya antikorupsi dan penegakan hukum akan kian mengkristal dan menjadi bola salju yang sulit dibendung pada masa yang akan datang dalam pemerintahan siapa pun,” ujarnya.

Di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengingatkan jajarannya untuk memberlakukan jam besuk di rutan sesuai aturan, termasuk terhadap Aulia Pohan. Tak boleh ada perlakuan khusus kepada siapa pun.

Bambang mengatakan hal itu menyikapi adanya pemberitaan mengenai putri dan menantu Aulia Pohan yang disebut membesuk melewati waktu yang ditentukan.

Pulihkan kepercayaan

Dosen Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, mengatakan, sikap dan pernyataan Yudhoyono ihwal status hukum besannya, Aulia Pohan, dan kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM berperan memulihkan kepercayaan sebagian rakyat kepada Yudhoyono dan Partai Demokrat. Yudhoyono adalah calon presiden yang diusung Partai Demokrat.

Saat ini, kata Andrinof, posisi Partai Demokrat dari hasil survei politik nasional Cirus Surveyors Group memperlihatkan pergeseran. Partai Demokrat tak hanya merebut urutan pertama, tetapi dukungan suaranya juga berbeda signifikan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golkar.

”Ada pergeseran kecenderungan baru yang terjadi antarcalon kontestan Pemilu 2009 sejak awal November 2008. Yudhoyono sementara ini berhasil memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap dirinya dan Partai Demokrat,” ujarnya. Survei Cirus dilaksanakan pada 3-10 November lalu. (MAM/JON)

(Diambil dari: http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/01/05565433/aulia.jadi.ujian.terbesar.sby)

Teknologi Disalahkan Atas Tragedi Mumbai

Senin, 01/12/2008 06:45 WIB

Jakarta - Serangan teror mengguncang Mumbai, India, dengan menelan korban hingga ratusan nyawa. Anehnya, teknologi ikut terseret sebagai biang keladi atas tragedi ini. Kenapa demikian?

Sebuah artikel di CyberMedia India Online (CIOL) menyebutkan bahwa teror di Mumbai menunjukkan bahwa teknologi, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi telah digunakan untuk kegiatan anti-sosial atau antihuman.

Buktinya, masih menurut artikel tersebut, teknologi seperti telepon satelit dan layanan micro blogging telah dioptimalkan oleh kelompok teror di Mumbai untuk melancarkan aksi mereka.

Seperti dikutip detikINET dari ITNews, Senin (1/12/2008), sebuah peta GPS juga ikut ditemukan di Mumbai Selatan. Selain itu, kelompok Deccan Mujahideen -- pihak yang mengaku sebagai pelaku -- mengklaim bertanggung jawab atas teror tersebut via surat elektronik alias e-mail.

Hal itulah yang kian mengukuhkan bahwa teknologi juga dapat disalahgunakan si penggunanya. Termasuk untuk melakukan aksi teror yang meresahakan masyarakat dunia.

(Diambil dari: http://www.detikinet.com/read/2008/12/01/064549/1045582/398/teknologi-disalahkan-atas-tragedi-mumbai)

Jumah Penderita HIV/AIDS Meningkat, Penularan lewat Suntik dan PSK

[ Senin, 01 Desember 2008 ]

Rapor pemerintah Indonesia dalam menanggulangi problem persebaran HIV/AIDS termasuk merah. Sepuluh tahun terakhir, datanya terus meningkat secara signifikan.

-------

Berdasar laporan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Departemen Kesehatan (PP & PL Depkes) selama sepuluh tahun terakhir, jumlah penderita AIDS terus meningkat. Hingga September 2008, totalnya sudah 14.928 penderita.

Ditjen PP & PL Depkes sebenarnya merekam data penderita AIDS di Indonesia sejak 1987. Tapi, jumlahnya naik cukup tajam sejak 1998. Jika pada 1998 jumlah penderita AIDS yang terdeteksi baru 60 orang, tahun 2000 sudah 255 orang. Peningkatan cukup tajam juga terjadi antara 2003-2004. Jika pada 2003 jumlah penderita AIDS 316 orang, setahun berikutnya menjadi 1.195 orang.

Peningkatan cukup tajam juga diperkirakan bakal terjadi antara 2007 - 2008. Pada 2007, jumlah penderita AIDS tercatat 2.974 orang. Tahun 2008 hingga September, jumlahnya sudah meningkat hingga 3.995 orang.

Infeksi AIDS terbanyak yang dilaporkan berdasar peringkat berturut-turut adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua. dan Bali. Tapi, jika dilihat secara keseluruhan (total jumlah penderita HIV + AIDS + yang meninggal), DKI tertinggi. Papua menduduki peringkat kedua. Jumlah orang yang terinfeksi HIV di provinsi itu masih tertinggi di Indonesia.

''Secara global, kasus HIV/AIDS sudah menunjukkan tanda-tanda stabil. Namun, di Indonesia, epidemi masih terus berlangsung. Bahkan, dewasa ini kita tercatat sebagai negara dengan laju epidemi tercepat di Asia,'' kata Nafsiah Mboi, sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, ketika ditemui di Jakarta, kemarin.

Ironisnya, lanjut dia, proporsi kumulatif kasus HIV/AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok usia produktif. Antara lain, usia 20-29 tahun (53,46 persen), disusul kelompok umur 30-39 tahun (27,9 persen), dan kelompok umur 40-49 tahun (7,69 persen).

Berdasar hasil survei terpadu HIV dan perilaku tahun 2007, prevalensi di kalangan populasi kunci yang berisiko tertular telah mencapai 9,5 persen di kalangan pekerja seks komersial (PSK). Lainnya, 5,2 persen di kalangan homoseksual dan 52,4 persen pada pengguna narkoba suntik. Dengan situasi seperti itu, kasus HIV/AIDS di tanah air akan terus meningkat hingga tahun 2020, dengan rata-rata per tambahan 5 persen penderita baru per tahun. ''Kalau saya boleh katakan sekarang kondisi Indonesia sudah akut dan KPAN bisa dibilang gagal. Tapi, kami belum menyerah.'' terang Nafsiah.

Aktivis perempuan itu mengeluhkan sulitnya menjalin kerja sama dan membangkitkan kesadaran di kalangan masyarakat Indonesia. Dia mengungkapkan, salah satu kendala utama dalam penanganan HIV/AIDS di tanah air adalah resistansi masyarakat terhadap upaya pencegahan dan perawatan korban terinveksi HIV/AIDS. Terutama menyangkut sosialisasi kondom, terapi metadon, dan beberapa program lain yang dinilai bertentangan dengan nilai kultur ketimuran. ''Problem lain yang juga sulit diatasi adalah kendala kontinuitas penggunaan kondom pada PSK,'' terang dia.

Berdasar data KPA, jumlah PSK yang menggunakan kondom selama tiga bulan pada 2004 sama dengan pada 2008, yakni pada kisaran 36 persen. Artinya, kesadaran untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual pada kalangan profesi berisiko tinggi tersebut masih rendah. ''Namun, penggunaan kondom pada kaum laki-laki berisiko, seperti pelaut, pengemudi truk, sopir taksi dan ojek, serta pekerja pelabuhan meningkat. Jumlah klinik yang melayani terapi metadon pun bertambah,'' tegas dia.

Menurut Nafsiah, penularan lewat jarum suntik saat ini naik dan mencapai 55 persen dari total pengidap.

Direktur penanggulangan penyakit menular langsung yang juga pelaksana tugas Dirjen PP&PL Depkes RI dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K) DTMH menilai bahwa angka prevalensi HIV secara umum di Indonesia masih cukup rendah (0,16 persen).

Namun, sejak 1990, prevalensi HIV pada kelompok berisiko tinggi meningkat. Kelompok pengguna narkoba suntik (penasun) yang terinfeksi HIV dan berinteraksi dengan kelompok lain memberikan kontribusi terhadap peningkatan prevalensi HIV pada kelompok berisiko tinggi.

Angka prevalensi HIV pada wanita penjaja seks (WPS) tertinggi terdapat di Papua 15,9 persen, berikutnya Bali 14,1 persen, Batam 12,3 persen, Jawa Barat 11,6 persen, Jakarta 10,2 persen, Jawa Tengah 6,6 persen, Jawa Timur 6,5 persen, dan Medan 6,1 persen.

Tjandra menambahkan, berdasar hasil estimasi tahun 2006, jumlah waria di Indonesia sekitar 20.960 hingga 35.300. Angka prevalensi HIV pada waria sangat tinggi di Jakarta (34 persen), Surabaya (25,2 persen), dan Bandung (14 persen).

Kelompok LSL (laki-laki suka laki), prevalensi HIV tertinggi di Jakarta (8,1 persen), Surabaya (5,6 persen), dan Bandung (2,0 persen). (iw/zul/noe/kum)

(Diambil dari: http://www.jawapos.co.id/)