Tuesday, March 06, 2007

JADILAH KUAT!


Daniel 10
“Hai engkau [Daniel] yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!” (Dan. 10:19)

Masalah belum selesai. Kesusahan belum juga reda. “Kapankah aku melihat hari bahagia? Akankah aku melihatnya?” Mungkin inilah pertanyaan-pertanyaan Daniel ketika menjalani hari demi hari yang penuh dengan kesengsaraan. Ingat, Daniel tidak saja mengalami kesusahan karena dijajah, tetapi penglihatannya juga telah menimbulkan kesusahan tertentu bagi dirinya. Dan kali ini, Daniel mengalami kesusahan karena ia menerima firman yang menyusahkan pada tahun ketiga pemerintahan Koresh, raja orang Persia (ay. 1).

Itu sebabnya Daniel berkabung selama tiga minggu penuh, tidak memakan makanan yang sedap, dan tidak mandi selama tiga minggu. Apakah kita bisa merasakan betapa susahnya Daniel waktu itu? Sudah sekian lama Daniel dan bangsanya bersabar dan menunggu hari-hari pembebasan. Hari di mana Allah beraksi untuk “unjuk gigi”. Tapi kapankah hari itu tiba? Daniel pun kelu hatinya. Tapi tiba-tiba, ada suatu makhluk yang menyapa Daniel dan berkata, “Hai engkau yang dikasihi, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!” Dan akhirnya, Daniel pun kembali menjadi kuat. Ya, kuat untuk menjalani kesusahan dan menanti hari kemenangan yang ditunggu-tunggu selama ini.

Kisah ini, kurang lebih, memiliki kemiripan dengan kisah Yesus sewaktu di Getsemani. Di sana kita melihat Yesus, Anak Manusia, yang sedang kelu hati-Nya. “Hatiku sangat gentar, seperti mau mati rasanya,” itulah curahan hati kepada ketiga murid-Nya. Sangat berat kesusahan yang ditanggung-Nya. Apalagi sebenarnya Ia tidak perlu menanggung kesusahan itu. Di tengah kesusahan itulah, injil Lukas mencatat, “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan pada-Nya.” Akhirnya, Yesus menjadi kuat dan berkata pada murid-Nya, “Bangunlah, marilah kita pergi.”

Adakah kita mengalami kesusahan berat saat ini? Atau mungkin kita merasakan kesusahan yang tidak pernah dialami sebelumnya? Dan, kita mungkin merasa kesepian, tidak ada orang yang bisa mengerti kita, dan rasanya hanya kita sajalah yang menanggung kesusahan berat ini. Semua meninggalkan kita. Inikah yang kita alami? Bila ya, cepat berlarilah pada Tuhan, berdoalah agar Tuhan membisikkan kepada kita, “Jadilah kuat, ya, jadilah kuat!”


Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! (Mzm. 46:11)

Monday, March 05, 2007

BERSYUKUR ATAS NAPAS YANG LEGA

Saya kira kita semua pernah mengalami hidung yang buntu. Biasanya, hal itu terjadi pada masa-masa kita menderita pilek. Akhir-akhir ini, saya pun mengalami hidung buntu. Wah Anda tahu sendiri rasanya. Saya menjadi sulit bernapas yang akhirnya membuat saya tidak bisa tidur malam dengan nyenyak karena saya harus bernapas dengan mulut. Beberapa hari saya alami hal ini.

Dari pengalaman itu, saya share dengan istri tentang seorang jemaat yang pernah saya kunjungi. Orang ini sudah tidak bisa diajak lagi bicara karena sudah memasuki tahap koma akibat penyakit stroke yang parah. Ia harus dibantu dengan infus untuk menyuplai makanannya. Namun tekanan yang saya share-kan pada waktu itu adalah saya melihat bagaimana dia bernapas dengan mulutnya. Entah kenapa, ia sudah tidak bisa lagi bernapas dengan hidungnya. Wah sungguh memprihatinkan, karena dia harus bernapas dengan mulut maka bibirnya menjadi pecah-pecah.

Lalu share ini saya tutup dengan perenungan bersama istri, "Kita ini jarang mengucap syukur kalau kita bisa bernapas dengan lega, dengan menggunakan hidung." Sekarang, teman-teman, yuk kita syukuri lagi atas hidung yang membuat kita bisa bernapas dengan lega. Anda sendiri pasti pernah merasakan tidak enaknya bernapas dengan mulut karena hidung yang buntu/tersumbat. Sebab itu, bila sekarang kita bisa bernapas dengan hidung, yuk kita mensyukurinya. Tarik napas Anda dalam-dalam, rasakan kelegaannya, lalu buanglah napas itu perlahan-lahan sambil mengatakan, "Thanks God."

Sunday, March 04, 2007

DOA KOMUNAL

Daniel 9
“Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu.” (Dan. 9:5)

Kita bisa sedikit bernapas dengan lega ketika membaca pasal ini. Mengapa? Karena, meski tidak semua ayat dapat dipahami, namun setidaknya kita dapat memahami doa Daniel pada ayat 1-19. Isi doanya masih terkesan akrab di telinga kita. Namun karena sedemikian akrabnya, kita justru dapat melalaikan hal yang penting dalam isi doa tersebut. Hal penting inilah yang justru menjadi keunikan doa Daniel. Hal penting apakah yang terdapat dalam doanya?

Doanya bersifat komunal, inilah hal penting itu. Maksudnya di sini adalah meski Daniel berdoa secara pribadi kepada Tuhan, namun ia berdoa dengan menggunakan kata “kami”. Ya, Daniel selalu menggunakan kata “kami” dalam setiap ayat doanya. Bahkan, ketika Daniel berdoa untuk mengaku dan memohon pengampunan dosa atas bangsa Israel, ia tidak memakai kata “mereka” tetapi kata “kami”. Mengapa? Saya terka karena Daniel merasa bahwa ia tidak bisa dipisahkan dari komunitas (kumpulan orang) Israel. Sebab itu, bila komunitasnya berbuat dosa, maka ia pun sadar bahwa dirinya terhisap di dalam perbuatan dosa itu. Inilah yang membuat Daniel menggunakan kata “kami” dalam doanya.

Apakah kita sering menaikkan doa komunal? Lawan kata dari doa komunal adalah doa individual. Contohnya seperti orang Farisi yang berdoa demikian, “Ya Allah aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.” Ia sangat senang memakai kata “aku” dan “mereka”. Perhatikan perbedaan kedua kata itu. Cukup tajam, bukan? Itulah doa individual.

Berbeda halnya dengan doa komunal. Isi doanya mencerminkan bahwa apa yang dilakukan komunitasnya, ia pun juga terhisap dalam perbuatan itu. Ambillah contoh yang paling gamblang, yaitu dalam keluarga. Andai ada seorang anak melakukan kejahatan, maka apa yang orang katakan tentang anak itu? “Anak siapa ini?” atau “siapa toh papa mamanya?” Itulah komentar yang sering diungkapkan. Apa sebabnya? Karena, perbuatan satu anggota akan dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota yang lain. Sekarang, coba lakukan doa komunal seperti Daniel ketika kita mendoakan jemaat, atau rekan kerja, atau bahkan rakyat Indonesia yang sedang mengalami krisis moral. Selamat mencoba!

Kita hidup bagaikan sebuah jaringan. Satu rusak, maka semua akan terganggu.

Saturday, March 03, 2007

LITTLE BOY'S PRAYER


This little boy speaks to Jesus in his nightly prayers...
In the darkness of the night the little boy slips out of bed,
Drops to his knees, shuts his big blue eyes, and bows his head.
Dear Jesus, please don't get mad for it's only me again, You know I love you and you always do what you can.
Each night I talk to you and ask the same things over and over. And I'm sure by now you know I have a new dog named Rover.
My mommy and little sister love Rover, I'm sure they do, And Jesus, "Why don't my Dad come home and love him, too?
He must not love us, Mommy, my sister and surely not me,
But I know if he saw Rover, he would love him too you see.
My friend, Jimmy across the street has a big dog,too.
Sometimes I look out my window and see things they do.
Jimmy and his dog have so much fun, 'specially with his Dad, I'm glad for him but sometimes it really makes me sad.
And Jesus, when my Dad went away it made my mommy cry. I love her so and to be the man of the house I really try,
But it is very hard and the nights are so long and dark,
And you must know how much it helps when I hear Rover bark.
Jesus, does my Dad live with you? Mommy says it is true,
And that he loves me, so would you tell him, "I love him, too.!"
Goodnight Jesus

Taken from: http://www.authorsden.com/visit/viewpoetry.asp?AuthorID=3371&id=2340

Friday, March 02, 2007

KUATKANLAH HATIMU!

Daniel 8
“Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar” (Dan. 8:14)

2300 Petang dan pagi? Apa maksudnya? Ada yang mengatakan bahwa angka tersebut benar-benar mengindikasikan 2300 hari. Ada pula yang mengatakan bahwa angka itu mengindikasikan 2300 tahun. Ada yang mengatakan bahwa angka tersebut menunjuk pada periode 1.150 hari. Dan, ada juga yang memandang angka tersebut sebagai simbolisasi dari periode yang sangat lama. Kok bisa? Semua pandangan ini memiliki alasannya masing-masing dan saya tidak mungkin menyajikan perdebatan keempat pandangan itu.

Untuk saat ini, saya hanya menyajikan pandangan saya sebagai acuan renungan kita. Bagi saya, 2300 petang dan pagi merupakan simbolisasi dari periode yang sangat lama. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: Bayangkan, Anda sedang menunggu seorang teman yang sudah melewati 3 jam dari waktu yang telah disepakati. Nah, setelah melewati waktu sekian lama, akhirnya teman Anda datang. Dengan rasa jengkel, Anda langsung berkata, “Saya sudah menunggumu 100 tahun lamanya!” Nah menurut Anda, apakah arti angka 100 tahun? Bukankah Anda sedang membicarakan tentang periode yang sangat lama?

Sama halnya dengan angka 2300 petang dan pagi. Sekali lagi, angka itu hanya menunjuk pada periode yang sangat lama. Tapi periode apa itu? Periode itu merupakan periode penderitaan bangsa Israel. Memang benar bahwa Daniel 7 menegaskan bahwa bangsa Israel masih memiliki pengharapan di dalam Tuhan, tapi Daniel 8 mengingatkan bahwa periode penderitaan di dunia masih belum berakhir. Adanya harapan di pasal 7 tidak berarti periode penderitaan telah berakhir. Periode itu masih berlangsung lama.

Pesan penglihatan ini sebenarnya senada dengan peringatan Yesus kepada para murid-Nya. Tanpa tedeng aling-aling, Yesus berkata, “. . . Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:19). Perkataan ini keras. Tapi inilah kenyataan hidup bagi orang Kristen. Kita memang akan mendapatkan harapan keadilan dari Tuhan kelak, tapi kini kita masih hidup dalam periode penderitaan di dunia ini. Ya, periode itu masih berlangsung lama, ia belum berakhir saat ini. Aduh, mengapa kita mesti mendengar pesan yang tidak enak ini? Yesus berkata dalam Yohanes 16:1, “Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.”


Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu,
Aku telah mengalahkan dunia
(Yesus Kristus—Yoh. 16:33)

Thursday, March 01, 2007

A PRAYER FOR TODAY

Eternal God, in whose perfect kingdom no sword is drawn
but the sword of righteousness, no strength known but the strength of love:
So mightily spread abroad your Spirit, that all peoples
may be gathered under the banner of the Prince of Peace,
as children of one Father;
to whom be dominion and glory,
now and for ever.
Amen.

(Book of Common Prayer)

YA, MASIH ADA HARAPAN!

Daniel 7
“Lalu diberikannya [anak manusia] kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja . . .” (Dan. 7:14a)

Ora mudeng! Mungkin inilah pikiran kita ketika membaca pasal 7. Apa sebabnya? Karena pasal ini berisi tentang penglihatan Daniel yang tidak akrab di telinga kita. Nah “kabar baiknya” adalah kita akan terus membaca penglihatan Daniel dari pasal 7 hingga pasal terakhir. Tapi jangan terlalu khawatir, saya akan mencoba menggali maknanya sehingga kita akan melihat keindahan firman Tuhan melalui semua penglihatan Daniel.

Sekarang, pertanyaannya adalah siapakah “anak manusia” yang disebut dalam pasal 7 ayat 13 itu? Acapkali, orang Kristen memahami istilah “anak manusia” sebagai Yesus Kristus yang dinubuatkan oleh Daniel. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya pemahaman itu kurang tepat. Ayat 18 dan 27 akan memberikan kita pencerahan. Dalam terang kedua ayat tersebut, “anak manusia” sebenarnya mengacu pada orang-orang kudus di bumi. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada Tuhan meski dunia seringkali menekan kehidupannya.

Lantas, Daniel melanjutkan bahwa orang-orang kudus itu akan diberikan kekuasaan, kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja oleh Yang Lanjut Usia (ay. 13, 14). Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan “Yang Lanjut Usia” sebagai “Dia yang hidup kekal”. Jelas sekali, istilah ini mengacu pada Tuhan yang memberikan harapan akan keadilan bagi orang-orang kudus atau bangsa Israel yang berada dalam tirani jajahan raja Babel. Dan memang inilah pesan penglihatan Daniel kali ini. Oh betapa meneguhkannya pesan tersebut bagi bangsa Israel yang sedang tertindas. Ya, masih ada harapan!

Bukan saja untuk bangsa Israel, tapi juga ada harapan untuk kita. Harapan ini digarisbawahi kembali oleh rasul Yohanes dalam Wahyu 20:4. Coba lihatlah kitab tersebut. Bukankah pesan ini dapat memberikan harapan bagi kita yang merasa sudah tidak ada lagi harapan di dunia ini? Demi melakukan kebenaran, kita mungkin menjadi orang yang sering ditindas, difitnah, diremehkan, diancam, dan selalu tidak mendapatkan keadilan. Daniel 7 memang tidak memberikan jalan pintas bagi setiap masalah, tapi paling tidak pesannya akan memberikan kita pengharapan yang tak dapat direnggut oleh dunia. Yaitu harapan akan keadilan dari Tuhan. Karena itu, tetap perjuangkan kebenaran sambil menatap harapan itu!

“. . . kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita”
(Rm. 8:37)