Friday, February 27, 2009

Perbedaan antara Depresi Laki-laki dan Perempuan

Apa perbedaan perilaku pada depresi laki-laki dan perempuan?
Depresi laki-laki:
  • Menyalahkan orang lain atas depresinya
  • Menyembunyikan rasa galaunya
  • Perlu memelihara kontrol dengan segala usaha
  • Bermusuhan secara terbuka, mudah marah
  • Menyerang jika disakiti
  • Mencoba untuk memperbaiki depresi dengan penyelesaian masalah
  • Beralih ke olahraga, tv, seks, alkohol
  • Merasa malu karena depresi
  • Mudah memaksa, terburu-buru
  • Takut menghadapi kelemahan
  • Mencoba untuk mempertahankan gambaran lelaki yang kuat
  • Mencoba untuk menyembunyikan depresinya
Depresi perempuan:
  • Menyalahkan diri sendiri untuk depresinya
  • Memasukkan ke dalam benak sendiri
  • Sulit untuk memelihara kontrol
  • Selalu berusaha untuk bersikap baik
  • Menarik diri jika disakiti
  • Memperkuat depresi dengan berusaha lebih keras
  • Beralih ke makanan, teman, kebutuhan emosional
  • Merasa bersalah karena depresi
  • Mengulur-ulur, menunda-nunda batas waktu
  • Secara berlebihan terobsesi oleh kelemahan
  • Terpengaruh oleh kegagalan sekecil apapun
  • Mencoba untuk memikirkan penyelesaian depresinya
(Diambil dari: Archibald D. Hart, Unmasking Male Depression)

Tuesday, February 24, 2009

Ketika Perasaan Anda Tertuju Pada Sesama Pria

Kami sudah berbicara mengenai ketertarikan seksual kepada wanita-wanita. Namun, sementara Anda membaca Every Young Man’s Battle, Anda mungkin berpikir bagaimana temanya bisa diterapkan kalau Anda tertarik kepada pria. Jika dugaan kami benar, kami cukup percaya bahwa tidak banyak orang yang dapat Anda ajak bicara menyangkut ketertarikan kepada sesama jenis. Dan, ketakutan kalau-kalau diketahui atau ditolak tak ayal lagi membuat Anda membisu.

Namun ketertarikan itu memang ada. Anda tidak memilih untuk tertarik kepada pria, tapi Anda memang tertarik kepada mereka. Anda mungkin pernah dilecehkan ketika Anda masih kecil, dan peristiwa itu mulai menumbuhkan perasaan tertarik kepada sesama jenis. Kendati itu sebuah pelecehan, Anda tidak dapat membayangkan mengapa itu membuat Anda merasa tertarik kepada pelaku. Dan, manakala itu dikaitkan dengan gereja, barangkali yang Anda dengar hanyalah kutukan.

Banyak teori tentang mengapa timbul perasaan seperti yang Anda miliki. Ada yang masuk akal, dan ada yang tidak. Namun, izinkan kami memberitahukan apa yang kami percayai sebagai yang paling masuk akal. Kami ingin menolong Anda untuk memahami mengapa Anda merasa seperti yang Anda rasakan, dan kami akan menyodorkan sejumlah harapan bagi Anda.

KETIKA FONDASI ITU DILETAKKAN

Sejak Anda hadir di dunia ini, perkembangan pribadi Anda terbuka melalui hubungan Anda dengan ibu dan ayah Anda. Kendati salah satu di antara keduanya tidak hadir dalam kehidupan Anda, misalnya, fakta ini tetap merupakan bagian dari proses perkembangan Anda. Apabila perkembangan masa kanak-kanak terjadi di dalam keluarga yang sehat, di mana seorang anak laki-laki merasakan kasih yang seimbang mengalir dari seorang ayah dan seorang ibu, fondasi yang diletakkan dalam dirinya ialah heteroseksualitas. Jika ayah Anda hadir di dalam kehidupan Anda dan ia berperan sebagai tokoh panutan yang mencurahkan kasihnya bagi Anda, Anda akan mendapatkan suatu perasaan aman dan sebuah identitas yang utuh dalam memasuki masa dewasa.

Dengan demikian, sejauh menyangkut keberadaan Anda sebagai laki-laki, Anda merasa lengkap. Wilayah di mana Anda merasa tidak lengkap adalah segala sesuatu yang ada sangkut-pautnya dengan keberadaan seorang perempuan. Untuk mengalami perasaan lengkap, Anda akan tertarik kepada sesuatu yang tidak Anda miliki, sesuatu yang akan melengkapi Anda – dan itu adalah seorang lawan jenis. Tentu saja, ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan, namun sebuah penjelasan yang akurat tentang ketertarikan laki-laki kepada perempuan.

Jika Anda dibesarkan oleh seorang ayah yang secara emosional jauh, atau seorang laki-laki yang kejam, suka menyiksa, atau tidak hadir di rumah, pengertian Anda mengenai diri Anda bisa berkembang berbeda. Anda mungkin tidak punya perasaan yang aman mengenai identitas Anda dan sifat-sifat Anda sebagai pria sejati. Jika tidak ada pria lain di dalam hidup Anda yang mampu memberikan semua itu, misalnya paman atau kakek, atau pelatih, maka Anda akan merasakan ketidaklengkapan yang tanpa Anda sadari sebetulnya ada di dalam diri Anda. Hasilnya, Anda tertarik kepada apa yang akan memberi Anda perasaan lengkap, dan itu adalah seorang pria lain.

Reaksi dari anak-anak lelaki lain bisa membuat pengertian “kurang” ini menjadi pelik di dalam hidup Anda. Misalnya, jika Anda tidak berminat pada olahraga yang kompetitif dan lebih menyukai seni dan drama, Anda bisa merasa seakan-akan Anda adalah orang yang terbuang. Anak-anak lelaki seusia Anda mungkin tidak ingin membina pertalian dengan Anda. Faktanya, bahkan, mereka menolak untuk bergaul dengan Anda karena mereka ingin menjamin bahwa mereka adalah pria sejati.

Ada anak-anak lelaki yang suka bermain dengan boneka ketimbang dengan tentara-tentaraan. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka itu adalah awal dari suatu kondisi di mana Anda akan ditolak oleh anak-anak lelaki lain dan kemudian oleh para pria. Jadi, adalah alami kalau Anda merindukan apa yang Anda tidak miliki, yaitu perasaan sebagai laki-laki dan pertalian dengan pria-pria lain. Jika ada orang yang homoseksual memperkosa Anda, maka Anda merasa, paling tidak, diterima dan mempunyai pertalian yang Anda rindukan.

Ketertarikan kepada pria dapat juga diperkuat kalau yang bersangkutan ditolak oleh wanita. Jika Anda dibesarkan atau diasuh oleh ibu atau perempuan yang tidak sehat jiwanya, yang memanjakan Anda atau bersikap kejam terhadap Anda oleh karena kebejatan moralnya, perkembangan ketertarikan Anda kepada wanita akan terganggu. Yang paling tidak ingin Anda miliki dalam suatu hubungan ialah hubungan dengan seseorang yang mirip wanita yang Anda tidak sukai itu. Anda merasa sangat tidak nyaman ketika bersama wanita tersebut. Landasan ini membuat Anda menjadi target empuk jika Anda didekati pria lain.

Jika Anda menemukan semua gambaran itu di dalam hidup Anda, Anda adalah salah satu dari ribuan pria-pria kebingungan yang sedang mencari-cari cinta dan ingin sekali mengetahui apa yang normal dan bagaimana mengalami yang normal itu. Di sini terpapar sejumlah pilihan bagi Anda, karena tersedia banyak harapan bagi Anda, jika Anda memilihnya.

PERUBAHAN ITU MUNGKIN

Dunia mengatakan kepada Anda bahwa Anda harus bertindak berdasarkan perasaan: Anda membayangkan Anda sedang bersanggama dengan gadis-gadis itu, baru saat itulah Anda merasa utuh. Mereka mengatakan bahwa sekalipun keluarga atau gereja Anda menolak Anda, perasaan lengkap itu akan Anda temukan di sebuah dunia di mana homoseksual dinilai baik dan perhatian yang Anda selalu dambakan itu tersedia. Anda dapat berpaling kepada bisikan dunia, atau kepada sebuah suara yang terdengar lebih lembut namun terdengar makin kuat setiap hari.

Gerakan pria homo yang berkembang di tahun 1970-an, bersamaan dengan terbentuknya psikiatri liberal, adalah bagian dari perubahan besar di dalam pola pikir mengenai homo seksualitas. Keduanya berhasil membuat homo seksualitas dihapuskan dari daftar kelainan mental yang dikeluarkan oleh American Psychological Society. Dr. Robert Spitzer berperan sebagai pemimpin kampanye itu, dan ini membuat dia menjadi pahlawan di dalam komunitas pria homo pada kurun waktu itu. Akan tetapi, baru-baru ini Spitzer menerbitkan hasil dari risetnya yang terakhir – hasil-hasil yang membuat dia kurang populer di kalangan mereka yang dulu memuji dia.

“Bertolak-belakang dengan hikmat konvensional,” tulisnya, “sejumlah individu yang sangat termotivasi, yang menggunakan aneka upaya untuk mengubah, dapat membuat perubahan yang substansial di dalam indikator-indikator ganda menyangkut orientasi seksual.” Pada hakikatnya, Spitzer menulis bahwa jika Anda merasa tertarik kepada sesama jenis, dan Anda sangat termotivasi untuk berubah, maka Anda betul-betul punya pilihan di dalam diri Anda yang sekarang, diri Anda setelah berubah, dan bagaimana perasaan Anda tentang diri Anda sendiri. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik Spitzer didasarkan pada wawancara dengan dua ratus orang pria dan wanita yang berubah, yang tadinya tertarik kepada sesama jenis, kemudian tertarik kepada lawan jenis dan tetap berada dalam kondisi terakhir sampai lima tahun berikutnya. Alasan mereka termotivasi untuk berubah ialah, mereka sudah penat dengan gaya hidup mereka yang sembrono secara seksual, hubungan-hubungan yang tidak stabil, keinginan untuk menikah, dan hal-hal yang menyangkut iman mereka. Setelah tidak lagi menjalani gaya hidup homo seksual atau lesbianisme, tiga perempat dari pria-pria dan setengah dari wanita-wanitanya menikah.

TINDAKAN APA YANG HARUS DIPILIH

Kalimat ini harus berarti : kendati Anda tidak memilih untuk merasa tertarik kepada sesama jenis, Anda dapat memilih apa yang Anda lakukan terhadap perasaan tertarik itu. Sekalipun banyak suara di dunia ini yang mengatakan bahwa tidak ada pilihan di dalam hal ini, ditemukan banyak bukti bahwa Anda sebetulnya punya pilihan dan Anda dapat membuat perubahan terhadap perasaan Anda mengenai diri Anda sendiri maupun tentang orang lain. Jadi, jika impian-impian Anda sendiri atas selingan seksual dengan pria, jika Anda mengkhayalkan hubungan seks dengan pria, dan jika Anda ingin sekali bersama pria dan menginginkan pria, Anda dapat mengubah semua keinginan itu, sama seperti pria yang menginginkan wanita dapat mengubah pikiran maupun hatinya. Ini tidak akan mudah, namun dapat dilakukan.

Setiap hari kami membaca e-mail dari banyak pria, pemuda, dan remaja yang sudah berjuang selama bertahun-tahun dan menemukan pengharapan untuk pertama kalinya – heteroseksual dan homo seksual. Para penganut homo seksual maupun heteroseksual tengah melakukan hal-hal yang kami sarankan, dan mereka menemukan kemenangan yang belum pernah mereka alami.

Anda dapat mempercayai kami apabila kami mengatakan bahwa ada jalan keluar. Anda memang punya pilihan, dan pilihan itu akan mengantar Anda kepada apa yang Tuhan inginkan bagi Anda dan kepada hubungan-hubungan yang sudah Ia persiapkan bagi Anda.

Jalur yang Anda pilih adalah keputusan Anda, dan kami berharap bahwa isi buku ini akan memotivasi Anda. Anda dapat melakukan apa yang dilakukan oleh banyak pria lain yang mempunyai perasaan seperti Anda. Anda dapat mengubah hidup Anda dan berhasil dalam mengembangkan sebuah hidup yang baru.

http://www.pancarananugerah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=26

Monday, February 16, 2009

GAYA HIDUP MEMBERI

Kisah Para Rasul 2: 44-45

“. . . dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai keperluan masing-masing


Pada suatu hari, seorang pemuda menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah di kotanya. Banyak orang berkumpul dan mengagumi hatinya karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada cacat atau goresan secuilpun di hati sang pemuda. Ia sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya. Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata, “Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?”

Semua yang hadir melihat hati pak tua itu sambil kebingungan dengan perkataannya tadi. Mengapa bingung? Karena hati pak tua terlihat penuh dengan bekas luka. Jelek kelihatannya. Ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ. Penempatan yang tidak benar-benar pas, sehingga tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?

Sang pemuda melihat kepada pak tua, memerhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa, “Anda pasti bercanda, pak tua,” katanya, “bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna, sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan.”

“Ya”, kata pak tua, “hatimu kelihatan sangat sempurna, meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Setiap sobekan tidak sama. Ada bagian-bagian yang kasar yang sangat aku hargai karena mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, dan tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang yang ada.

“Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya?” kata pak tua. Sang pemuda berdiri membisu dan air mata mulai mengalir di pipinya. Ia berjalan ke arah pak tua, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, lalu merobeknya sepotong. Sang pemuda memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan gemetar. Pak tua lalu menerima pemberiannya, menaruh di hatinya, dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka. Ia lalu memberikannya untuk menutupi luka hati dari si pemuda. Mereka berbagi kasih.

Meneladani pak tua itu, akhirnya si pemuda tadi belajar memberi. Memberi, seperti yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul tadi, merupakan ciri khas yang sangat jelas dalam sebuah persekutuan kristiani. Ini pulalah cara hidup jemaat mula-mula. Rupanya kehidupan memberi telah mendarah daging dalam diri mereka. Coba perhatikan kata “selalu” dalam ayat 45. Kata tersebut dipakai untuk menerangkan tentang adanya jemaat yang berbagi kasih secara terus-menerus pada orang lain yang membutuhkan sesuatu. Seakan-akan ini telah menjadi sebuah gaya hidup yang telah berjalan otomatis. Dan gaya hidup memberi ini jugalah yang disukai Tuhan.

Sudahkah kita memiliki gaya hidup memberi? Sudah tentu memberi di sini tidak hanya dalam bentuk materi, seperti uang, pakaian, barang-barang tertentu. Bahkan, menurut Arvan Pradiansyah, seorang pelatih manajemen SDM, pemberian materi merupakan pemberian dalam tingkat paling dasar. Selain materi, ada pula pemberian yang lebih tinggi, yaitu memberi perhatian. Bentuk pemberian seperti ini yang kadang justru terabaikan. Selama pelayanannya kepada sesama manusia, Ibu Teresa justru menemukan bahwa yang terpenting sebenarnya bukanlah sekadar memasakkan makanan serta membagikannya. Yang terbaik adalah menyapa dan berbicara dengan penuh perhatian kepada orang lain. Tidak heran bila seorang lelaki yang tinggal di rumah kardus yang mendapatkan perhatian dari Ibu Teresa lalu berkata, “Sudah begitu lama saya tidak merasakan kehangatan tangan manusia.” Apakah kita telah memberi perhatian kepada sesama kita? Apakah kita telah memberi perhatian tatkala berbicara dengan orang lain?

Terlepas dari pandangan Katoliknya, Ibu Teresa pernah mengatakan satu hal yang dapat menggugah hati kita: “Di dalam akhir hidup kita, kita tidak akan dihakimi dengan seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa banyak uang yang telah kita kumpulkan, atau seberapa banyak perkara besar yang telah kita lakukan. Kita akan dihakimi dengan ‘Ketika Aku lapar kamu memberi Aku makanan, ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian, ketika Aku tidak punya rumah, kamu memberi Aku tumpangan . . .'”

Saturday, February 14, 2009

BIANG KEROK KESURUPAN MASAL

[Sabtu, 14 Februari 2009]
Oleh Reza Indragiri Amriel *

Wabah kerasukan menggejala lagi. Sejumlah sekolah di Jawa Timur sudah mengalaminya. Lazimnya, pihak sekolah langsung melibatkan alim ulama guna mengusir para makhluk halus yang diyakini sebagai biang keladi kesurupan anak-anak didik itu.

Pendekatan spiritual-religius untuk mengatasi kesurupan pantas dihargai. Namun, agar lebih paripurna, pendekatan semacam itu akan sangat baik bila dilengkapi pula dengan pendekatan-pendekatan lain.

Asumsinya, penanganan gangguan yang dilakukan lewat pendekatan holistik akan berpengaruh lebih konstruktif bagi daya tahan individu, termasuk dalam hal ini para siswa.

Dari kacamata psikologi, pandangan tentang fenomena kesurupan (possession) terbelah dua. Pandangan pertama meyakini kesurupan adalah realita supranatural. Unsur budaya menjadi sesuatu yang sentral dalam perspektif itu. Dengan demikian, keterlibatan para ahli supranatural menjadi keharusan saat menangani individu-individu yang bermasalah dengan elemen supranatural tersebut.

Pandangan kedua sangat diwarnai tilikan ala psikologi belajar. Kesurupan selintas memiliki kemiripan gejala dengan gangguan identitas disosiatif (GID, dissociative identity disorder, dulu dikenal dengan istilah gangguan kepribadian ganda).

Tetapi, dalam perspektif tersebut, penjelasan atas kesurupan maupun GID sama sekali tidak menyertakan kepribadian lain (alters) maupun faktor-faktor tak kasatmata lain.

Kesurupan, sesuai prinsip psikologi belajar, ialah bentuk perilaku terencana yang ditampilkan individu untuk mendapatkan insentif tertentu. Anggaplah, kesurupan adalah reaksi terhadap stres. Kesurupan merupakan teknik untuk mengatasi stres. Kesurupan ialah bentuk katarsis, yakni pembersihan diri dari sampah-sampah psikis.

Berdasar pandangan tersebut, kesurupan sesungguhnya menjadi strategi penyesuaian diri terlepas bahwa strategi itu bersifat infantil atau kekanak-kanakan (immature).

Ditarik ke fenomena kesurupan di sekolah, pandangan psikologi belajar memunculkan bahan retrospeksi bagi kalangan pendidik dan orang tua.

Sangat mungkin, kesurupan bertitik awal dari terlalu tingginya beban akademis siswa. Jam pelajaran yang begitu panjang, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, masa ujian yang menegangkan, gaya mengajar guru, substansi kurikulum yang lebih dominan pada pengolahan daya pikir serta mengesampingkan pentingnya olah rasa, ekspektasi orang tua, serta penambahan jam belajar lewat kursus, dan sejenisnya bisa mempersempit makna aktivitas belajar sebagai sebuah totalitas pengalaman hidup.

Apalagi jika stres di rumah dan lingkungan pergaulan siswa juga dimasukkan, akan semakin dahsyat tekanan psikologis yang harus diatasi para siswa.

Belajar (baca: bersekolah) telah kehilangan sukmanya. Unsur kesenangan yang sejatinya mutlak dalam setiap kegiatan pendidikan pun menguap. Pengaruhnya kontraproduktif bagi anak didik. Motivasi atau antusiasme belajar menurun. Atau, kognisi anak didik makin tajam, namun mereka tak memiliki kekayaan empati. Wujudnya, klasik: tekun tapi angkuh, ''ensiklopedi berjalan'' tapi kaku dalam tindakan, kritis tapi egois, dan pintar tapi korup.

Faktor usia juga tidak bisa dikesampingkan. Karena rata-rata siswa sekolah menengah berada pada tahap usia remaja yang kerap diidentikkan sebagai masa penuh badai dan tekanan (storm and stress), sesungguhnya para siswa sekolah menengah secara psikologis memang tengah berada dalam kondisi rawan.

Kerasukan di sekolah menjadi peristiwa yang semakin menarik untuk ditelaah lebih jauh karena berlangsung secara masal. Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan berjenis perempuan. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok.

Dominannya perempuan pada fenomena kesurupan, kiranya, bisa dijelaskan lewat suggestibility atau kepekaan individu terhadap sugesti. Dengan asumsi perempuan memiliki suggestibility lebih tinggi, mereka pun menjadi lebih mudah tertular kesurupan setelah menyaksikan rekan-rekan mereka yang juga mengalami kesurupan.

Agenda ke Depan

Tiga poin penting yang perlu digarisbawahi dari uraian di atas adalah beban akademik, usia anak didik (remaja), dan suggestibility. Ketiganya patut menjadi perhatian para guru, orang tua, serta otoritas penentu kebijakan pendidikan saat mencoba mengatasi epidemi kesurupan di sekolah-sekolah.

Membangun langgam komunikasi yang asertif dan warna interaksi solutif, ditambah dengan upaya membangun karakter anak didik sebagai insan yang bersikap laku positif, adalah agenda ke depan yang perlu disisipkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Tanpa menafikan peran agamawan dan penjelasan-penjelasan agamis tentang fenomena kesurupan, perspektif psikologi menghadirkan sebuah pemahaman lebih rasional sekaligus lebih kompleks bahwa penyebab kesurupan anak-anak didik ternyata tidak harus dicari ke alam gaib.

Biang kerok fenomena kesurupan masal di sekolah ternyata kita-kita juga. Wallahu a'lam.

* Reza Indragiri Amriel, ketua Jurusan Psikologi, Universitas Bina Nusantara, Jakarta

http://jawapos.co.id/

Thursday, February 12, 2009

SABAR DAN SABAR DAN SABAR!

“. . . Sabarlah terhadap semua orang.”

1 Tesalonika 5: 14

Pelajarilah seni sabar.

Disiplinkan pikiranmu saat pikiran-pikiran tak sabar

untuk meraih tujuan.

Tak sabar memicu kegelisahan, ketakutan, keputusasaan,

dan kegagalan.

Sabar menciptakan keyakinan, kepastian,

dan cara berpikir rasional,

bahkan mendatangkan sukses (Bryan Adams)


Setiap kali pergi makan ke KFC, kita pasti melihat patung atau gambar seorang kakek tua dengan jenggot putihnya. Tahukah Andah siapa nama kolonel tersebut? Ia adalah kolonel Sanders. Tidak banyak orang tahu perjalanan berat mencapai kesuksesannya. Sanders baru memulai usaha menggoreng ayam di usia 60 tahun. Lalu ia menawarkan resep ayam gorengnya dari satu restoran ke restoran lainnya. Restoran pertama menolak resep barunya. Restoran kedua, ketiga, keempat, kelima, dan restoran-restoran berikutnya terus menolak resep ayam gorengnya. Sanders tidak patah semangat. Ia terus menawarkan dan menawarkan. Akhirnya, resep ayam gorengnya baru diterima oleh restoran yang ke 108. Ia baru menikmati hasil kerja kerasnya pada usia 90 tahun. Jadi, selama 30 tahun ia berjuang dan terus berjuang. Inilah contoh kesabaran seorang manusia.


Apa artinya sabar? Dalam 1 Tesalonika 5: 14, kata “sabar” berarti “panjang menderita”. Orang yang menderita karena satu penyakit pasti akan ada titik akhirnya. Entah akhirnya sembuh atau meninggal; yang pasti penderitaan itu ada titik akhirnya. Tapi dalam hal ini Paulus tidak berbicara mengenai titik akhir penderitaan; ia justru berbicara mengenai panjangnya penderitaan seseorang. Proses yang menjadi pembicaraan utamanya. Sebab itu, sabar dapat diartikan sebagai: menikmati proses daripada hasil akhirnya.


Kebanyakan kita tidak menikmati sebuah proses. Tuntutan “mana hasilnya” selalu membayangi kehidupan kita. Dunia kerja adalah satu lembaga yang mungkin paling banyak menuntut hasil ketimbang prosesnya. Dunia rumah tangga pun juga tidak kebal dari tuntutan hasil. Seorang wanita merasa sangat sakit hati terhadap mantan suaminya. Mengapa? Ia diceraikan suaminya karena dianggap tidak dapat memberikan keturunan dalam pernikahan yang sudah berjalan selama 2 tahun. Mantan suami dan pihak keluarganya mengatakan bahwa dia mandul. Yang lebih menyakitkan lagi adalah mantan suaminya mengatakan, “Tuh benar kan, kamu yang mandul, buktinya sekarang saya nikah lagi dan langsung memiliki anak.” Ini tuntutan hasil yang terjadi juga dalam dunia rumah tangga. Memang budaya menuntut hasil tampaknya telah mendarah daging dalam kehidupan kita.


Padahal, tahukah Anda bahwa proses sebenarnya jauh lebih penting ketimbang hasilnya? Bayangkan kita sedang menonton pertandingan sepak bola. Manakah yang lebih kita nikmati: melihat proses pertandingan atau mengetahui hasilnya? Mengapa para penggemar sepak bola rela mengorbankan waktu tidur mereka pada malam hari demi menyaksikan pertandingan sepak bola? Bukankah hasil pertandingan dapat mereka lihat keesokan hari melalui surat kabar? Tentu karena, bagi mereka, menikmati proses lebih penting ketimbang hasilnya.


Kesabaran berarti kita menikmati proses daripada hasil akhirnya. Nikmatilah prosesnya, itu yang terpenting. Ketika Paulus mengatakan, “Sabarlah terhadap semua orang,” berarti kita perlu belajar menikmati proses pertumbuhan karakter orang lain. Setiap orang memiliki waktu pertumbuhannya masing-masing. Ada yang pertumbuhan karakternya baru kelihatan setelah 2 tahun menjadi orang Kristen. Ada yang membutuhkan 5 tahun. Ada yang membutuhkan 20 tahun, dan seterusnya. Segala sesuatu ada waktunya.


Untuk menutup renungan ini, saya ingin menceritakan sebuah kisah. Sekitar tahun 300 ada seorang ibu yang sabar mendoakan putranya. Ia hidup dalam kebejatan moral. Pada usianya yang ke 17, putranya sudah hidup bersama dengan seorang wanita di luar nikah. Ibu ini sangat hancur hatinya dan ia hanya bisa berdoa dan berdoa. Akhirnya, setelah mendoakan anaknya selama kurang lebih 15 tahun, baru hasilnya tampak. Di usianya yang ke 32 putra kesayangannya bertobat, mau dibaptis. Malahan di usianya yang semakin dewasa ia menghasilkan karya-karya teologi yang menjadi warna gereja kita pula. Putra itu bernama St. Agustinus dan Ibunya bernama Monica.


Ibu Monica tidak pernah tahu hasil akhir doanya. Tapi ia terus sabar dan sabar dan sabar terhadap proses pertumbuhan anaknya.


Marilah kita sabar terhadap semua orang!

Wednesday, February 04, 2009

Memaafkan untuk Melapangkan

Senin, 2 Februari 2009 | 23:04 WIB

Konsultasi psikologi dengan psikolog Kristi Poerwandari

Seorang ibu, E (50), yang telah menikah lebih dari 30 tahun dan hidup rukun dengan suami, menulis surat setelah suami selingkuh dengan perempuan lain.

"...Wanita itu curhat masalah-masalah pribadi. Saya katakan kepada suami, 'Hati-hati! Karena awalnya dari curhat, simpati, iba lalu cinta'. Tetapi, suami bilang enggak mungkin terjadi, saya pun percaya 100%. Beberapa bulan kemudian saya menemukan billing tagihan HP suami, dengan nomor yang itu-itu saja. Saya mencoba menelepon. Ternyata nomor HP wanita itu dan suami ada di sana."

Setelah suami pulang, Ny E bertengkar hebat dengan suami,sampai anak-anak yang besar datang segera. "Seperti hilang pikiran dan nuraninya, Bu! Seakan-akan dibela wanita itu dan dijaga perasaannya, Bu! Saya dan anak-anak sangat terpukul. Hati dan perasaan saya hancur luluh, sakit, bagai mimpi buruk di siang bolong." Ny E sangat terluka karena dibohongi (dalam istilahnya) "habis-habisan" oleh suami yang dia banggakan dan cintai.

Akhirnya, "Suami menangis keras-keras sambil mencium ujung kaki saya dengan mengatakan sangat-sangat menyesal, rasa bersalah yang besar, dan minta-minta maaf dan ampunan dari saya dan anak-anak. Anak-anak yang besar meredakan hati saya agar memaafkan ayahnya dengan pertimbangan segala kebaikan dan kelebihan dari ayah mereka."

Menurut Ny E meski hubungan telah membaik, ia masih sulit menghilangkan bayangan perselingkuhan suami.

Yang dirasakan Ny E juga dirasakan I (36). I mengaku selama ini rela berperan lebih besar mencari nafkah karena suami sibuk dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Empat tahun lalu ia mendapati suami menjalin hubungan dekat dengan perempuan lain. Hingga saat ini hal tersebut menghantui, membuat dia curiga dan cepat marah, bahkan sering
berniat berpisah dari suami karena merasa terlalu terluka.

Kemarahan, sakit hati, dan luka yang dalam juga bisa terjadi dalam konteks lain, misalnya pada lembaga dan rekan-rekan kerja.

Berikut cuplikan surat T (29): "Mbak, saya sakit dan kehilangan pekerjaan. Bukan takdir sakit yang saya sesali, tetapi justru di- PHK/dikeluarkan dari kantor yang menyakiti hatiku.

Dulu saat saya masih di kursi roda, bicaraku belum lancar karena terganggu akibat sakit, dan leher belum bisa tegak, saya di-PHK secara lisan oleh wakil kantor tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Saya baru tahu keputusan itu belum diketahui petinggi di kantor.

Akhirnya pimpinan sangat intens menghubungi dan membujukku untuk menerima PHK, tetapi mereka tidak mau membayar uang pesangon. Saya tetap menuntut pesangon karena saya pegawai tetap bukan lagi pegawai kontrak. Akhirnya saya menggugat hukum.

Berapa lama perjuangan saya dari mulai dipecat sampai mendapat pesangon? 15 bulan. Selama proses itu aku sering menangis sendiri, selalu mimpi buruk, dan tidak bisa tidur nyenyak. Saya sangat tersiksa, Mbak. Semenjak itu saya jadi dendam, benci semua orang di sana. Kenapa mereka tega menyiksaku saat saya sakit begitu....

Kalau mereka punya niat baik, pastilah mereka mem-PHK dengan tidak langsung bicara denganku, tetapi bisa lewat keluargaku. Mereka kan tahu gimana kondisi psikologisku karena baru saja ditimpa musibah terserang penyakit berat."

Tahapan "memaafkan"
Semua bertanya, "bagaimana melupakan kebencian dan dapat memaafkan?" Mungkin kita belum mampu memaafkan karena masih merasa sangat terkejut dan terluka, khawatir bila perbuatan diulang, takut terlihat "lemah" dengan memaafkan, atau menganggap memaafkan akan melanggar prinsip keadilan yang selama ini diyakini.

T, misalnya, tak habis pikirmengapa tempat kerjanya yang dikira membawa visi kemanusiaan dan keadilan dapat berlaku sekejam itu kepada dirinya yang sakit parah dan sebelumnya bekerja sangat total. Kita juga lebih sulit memaafkan bila pihak lain tidak merasa bersalah dengan yang dilakukan, atau dirasa tidak tulus dalam menyatakan
penyesalan.

Enright (dalam Mullet dan Girard, 2000) melihat memaafkan sebagai fenomena sosial dalam enam tahapan, satu orang dan yang lainnya mungkin memahami dengan cara berbeda.

(1) "Pemaafan dengan pembalasan" (Saya bersedia memaafkan bila ia memperoleh hukuman yang setara dengan lukaku); (2) "pemaafan restitusional" (Bila saya memperoleh kembali yang diambil dari saya, saya bisa memaafkan); (3) "pemaafan karena
permohonan (Saya dapat memaafkan bila orang lain memohon saya melakukannya); (4) "pemaafan karena tuntutan norma/hukum" (Saya memaafkan karena agama saya menyuruh melakukannya); (5) "pemaafan untuk keselarasan sosial" (Saya memaafkan karena itu perlu untuk mengembangkan kedamaian hubungan); dan (6) "pemaafan sebagai bentuk kasih sayang" (Saya memaafkan karena itu esensi kasih sayang yang sesungguhnya, yang mencegah balas dendam dan membuka rekonsiliasi).

Memaafkan dari hati terdalam tidak dapat dipaksakan. Bila situasinya sangat menyakitkan, mungkin untuk sementara cukup kita melihat memaafkan sebagai murni fenomena internal diri.

Berbagai penelitian (McCullough et al, 2000) menunjukkan, memaafkan mengembangkan keseimbangan dan rasa nyaman, mengurangi tekanan, meningkatkan penerimaan diri, dan mengurangi keluhan kesehatan. Intinya, membantu kita lebih berbahagia.

Kita tidak perlu memaksa diri melakukan rekonsiliasi dengan pihak yang sangat menyakiti kita. Tetapi, bagaimana pun kedamaian diri sangat penting. Semoga pemahaman ini dapat membantu kita "let go" (melepaskan), tidak didera luka hati, dan tersenyum dalam menapaki tahun 2009.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/02/23042217/memaafkanuntukmelapangkan